| Red-Joss.com | Ketika singgah ke rumah sahabat-sahabat yang seusia, ada yang nampak renta dan sedang sakit. Niat saya, tanpa kata, mengatakan bahwa:
“Hidup itu indah, ketika kamu menghabiskannya dengan orang-orang yang membuat hatimu bahagia.”
Ketika niat itu masih tinggal di angan, tetiba mereka, suami dan istri, yang keduanya nampak lelah, karena menjalani sakitnya, berucap: “Bagaimana hidup bahagia, kalau diabaikan?” Diabaikan oleh seseorang yang telah menerima segala daya yang mereka punya.
(Ingin saya katakan apa yang ada di angan, tapi saya tidak sanggup mengatakan), bahwa: “Cinta itu adalah tentang mengabaikan ketidaksempurnaan dari dia yang dicintai, (seperti kisah Ayah yang baik) justru dia menerima seutuhnya, yang sempurna dan tak sempurna, segalanya, dari anaknya itu. Kemampuan menerima itu menghapus gores dan luka yang membuat kecewa. Ibarat air kembali tenang dan ibarat lampu kembali bernyala, kendati nyalanya tak sebenderang seperti dulu lagi. Tapi cukup untuk melihat sesungging senyum yang tidak lagi mekar lama. Cukup untuk menunggu sinar matahari bersinar lagi.
Salam sehat. Jangan lupa bahagia.
…
Jlitheng

