“Bekerja mencari upah atau gaji besar itu jamak dan biasa. Tapi bekerja di ladang Tuhan itu adalah pelayanan, dan upahnya itu luar biasa.” -Mas Redjo
Ketika teman bertanya pada saya, “Apa yang mendasari saya bekerja di ladang Tuhan?”
“Karena saya ingin bahagia,” jawab saya tenang. Tidak ragu, tapi tegas dan mantap.
Dia terperangah, saya tersenyum mengiyakan dan memastikan. Bahwa saya serius. Keseriusan itu yang menuntun saya untuk memahami makna dan tujuan hidup ini serta menjalaninya.
Modal kepercayaan dan iman saya adalah berlimpah sukacita, jika hidup ini berguna bagi orang lain.
“Peka, peduli, berbela rasa, berbagi, dan makin beriman.”
Peka, karena mata hati saya dibuka untuk melihat peristiwa hidup ini dan mensyukurinya. Bahwa hidup itu berhikmat!
Peduli, karena tidak seharusnya kita bersikap masa bodoh dan cuwek pada mereka yang alami kesulitan, kesusahan, dan menderita.
Berbela rasa, karena kita dituntut tanggap sasmita dan spontan; digerakkan dari hati.
Berbagi, karena semua yang kita miliki itu anugerah Tuhan. Kita diberi secara cuma-cuma agar kita juga memberi tidak didasari untung rugi, tapi ikhlas hati.
Makin beriman, karena hati yang mengasihi. Tuhan adalah kasih. Dengan saling mengasihi, kita mengejawantahkan perintah Tuhan yang pertama dan utama. “Hidup untuk menghadirkan wajah belas kasih-Nya.”
Sesungguhnya, yang dicari dalam hidup ini adalah kebahagian sejati, karena kita milik-Nya!
Mas Redjo

