“Orang yang menderita itu mereka yang menyia-nyiakan hidupnya. Orang yang berbahagia itu adalah, mereka yang hidupnya untuk berhikmat.” -Mas Redjo
Kita tidak harus kamuflase dan berpura-pura. Hidup bahagia itu pilihan, sumbernya dari hati dan anugerah Tuhan!
Coba bertanya pada diri sendiri dan dijawab dengan jujur, “Apakah kita bahagia atau tidak?”
Menjawab jujur dan dengan hati yang jernih, kita dapat menelusuri sumber kebahagian atau tidaknya hidup kita. Puji Tuhan, kita bahagia. Jika tidak, kita telusuri masalahnya untuk diurai dan mohon penyertaan Tuhan agar kita dapat mengatasi serta menyelesaikannya dengan baik.
Sejatinya, resep hidup bahagia itu sederhana, tapi sangat menantang, karena yang dibutuhkan adalah kebesaran jiwa kita, yakni hidup ini untuk selalu disyukuri dan dinikmati sebagai anugerah Tuhan.
Ketika hidup ini senantiasa untuk disyukuri dan dinikmati, adakah masalah, konflik, perselisihan, dan bahkan permusuhan itu muncul di hati?
Tidak! Hidup yang disyukuri dan dinikmati sebagai anugerah Tuhan itu adalah sumber bahagia. Sedang konflik, perselisihan, kebencian, dan hal-hal buruk serta negatif lainnya itu datang dari yang jahat.
Tidak hanya itu, ketika muncul slek, kesalahpahaman atau konflik, kita segera mencari solusinya. Dengan mengedepankan semangat rendah hati, kita mengurai masalah itu dan menyelesaikannya dengan baik dan bijak. Sehingga hati ini jadi tenang, tentram, dan damai.
Sebaliknya, jika hidup ini tidak disyukuri membuat hati jadi kusam, suram, menggelap, dan akhirnya padam.
‘Urip kuwi urup’, hidup senantiasa disyukuri dan dinikmati agar kita bahagia. Hidup bermakna, karena kita berhikmat.
Mas Redjo

