| Red-Joss.com | Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan itu dari harta, penampilan fisik atau jabatan seseorang. Sebab bahagia yang hakiki itu berasal dari hati. Bahagia itu bukan dicari, melainkan diciptakan, karena dia itu berasal dari pola pikir kita sendiri.
Nyatanya, walaupun hidup ini bermasalah dan masalah itu seolah melekat dari saat ke saat, tapi, jika kita tetap berpikir positif dan tekun menjalani, kebahagiaan itu akan tetap di hati.
Contoh nyata.
Namanya Ag S, seorang suami. Suami ini dalam ukuran manusia biasa sudah lelah. Selain usia, dia sudah berpuluh tahun menjalani hidup bersama sang istri yang kini terbaring sendirian di RS, karena DM yang menderanya. Dia tekun merawat, menemani dan menguatkan istri untuk tetap bersandar pada kuasa kasih Sang Pencipta.
Ndilalah, Ag S itu juga sakit dan harus istirahat total di rumah. Yang membuat gundah di hatinya, yakni istri yang terbaring seorang diri di RS dan tidak ada yang menemani.
Apakah Ag S termasuk suami yang bahagia? Dari perjalanan hidupnya kita dapat memetik hikmah, bahwa bahagia itu harus diciptakan, dijaga dan dirawat setiap saat.
Apakah kita ini juga termasuk orang yang hidup bahagia?
Simak lima tanda orang bahagia menurut sains berikut ini.
Pada dasarnya, arti bahagia pada setiap orang itu berbeda. Fakta menariknya, dikutip dari PsychCentral, Survei Harris Poll of American Happiness tahun 2017 saat ditanyakan “Apa kamu bahagia,” hanya 33 persen orang yang akan menjawab ‘ya’. Tentu ada banyak alasan yang mendasari jawaban tersebut.
Dari 33 persen yang bahagia itu ada jawaban yang sama:
Mereka tidak suka pamer bahagia agar diakui oleh orang lain. Maka mereka hidupnya lebih tenteram.
Mereka tidak suka membanding- bandingkan siapa lebih bahagia. Oleh karena itu mereka cenderung terhindar dari rasa cemas. Makan enak dan tidur pun nyenyak.
Mereka lebih suka berbagi sejahtera dengan sesama dalam senyap. Dengan cara itu mereka bersyukur kepada Penciptanya dan merawat jiwanya.
Mereka itu umumnya suka belajar. Selain memelihara pikiran dan hatinya, supaya tetap dapat berbagi cahaya dengan orang lain.
Salam sehat dan kendati lelah tak henti berbagi cahaya.
…
Jlitheng

