Red-Joss.com – Badai dalam rumah tangga itu bisa datang secara tiba-tiba, dari hal yang remeh-temeh, sepele, hingga ke masalah yang lebih besar.
Persoalan yang remeh itu seperti ketika kita pulang kerja, istri lupa membuatkan minuman atau tidak berada di rumah. Bisa juga, kita mencela masakan istri yang keasinan atau lauknya hangus. Lalu, timbul ketersinggungan dan jadi konflik.
Persoalan yang besar itu seperti pandemi panjang yang berakibat resesi ekonomi dunia, di-PHK, sehingga sulit mencari pekerjaan. Dan, seterusnya.
Dari masalah yang kecil lalu timbul konflik, itu sering kali terjadi, ketika kita tidak peka melihat situasi, sehingga timbul kesalahpahaman.
Jangan pernah bilang konflik itu bumbu pemanis rumah tangga.
Jangan sekali-kali konflik itu disepelekan dan dibiarkan berlarut-larut, sehingga suasana rumah tangga semakin panas, berantakan, dan jadi penyakit kronis.
Masalah sekecil apapun, itu harus segera diselesaikan, tanpa harus mencari mana yang salah dan benar. Tetapi, harus ada salah seorang yang berani mengalah dan meminta maaf. Bukan berarti mengakui salah, melainkan didasari kerelaan berkorban untuk memaafkan dan mengampuni adalah faktor penentu kebahagiaan hidup rumah tangga.
Begitu pula, di saat krisis ekonomi dan sulit mencari pekerjaan. Suami istri itu tidak lagi hidup berdua dengan pikiran dan keinginan sendiri, tapi hidup bersatu untuk seia-sekata dan setujuan.
Saat pasangan sakit, sedih, atau bahkan terpuruk, semua merasakan hal yang sama. Karena, hidup rumah tangga itu harus sejiwa dan sehati. Seberat dan sesulit apapun masalah itu harus ditanggulangi dan dicari solusinya bersama.
Hidup berumah tangga itu juga harus peka membaca situasi agar kita semakin saling memahami. Untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan menyemangati agar kita fokus mewujudkan harapan keluarga yang bahagia, damai, dan sejahtera itu jadi nyata.
Dalam bekerja di rumah pun kita tidak harus saling menunggu. Bukan berarti tidak mendisiplinkan, melainkan karena kita ingin saling meringankan tugas itu dalam kebersamaan. Kita ringan tangan agar pekerjaan tidak menumpuk dan rumah tampak berantakan.
Sama halnya, ketika pasangan kita kena PHK dan sulit mencari pekerjaan. Bukan untuk menyalahkan keadaan, melainkan kita ikut mencari jalan ke luar dari masalah itu. Bahkan, jika perlu kita ganti yang bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuan. Baik dengan membuat kue dan jualan di depan rumah, atau lewat online.
Sedahsyat apapun badai kehidupan, kita bakal mampu mengatasinya dengan semangat rendah hati. Mengutamakan kepentingan keluarga yang jauh dari gengsi dan keegoisan diri demi kebahagiaan keluarga.
Semoga semua rumah tangga dilimpahi sukses dan bahagia.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

