| Red-Joss.com | Kisah manis Maria Lilik, seorang pengurus Legio tentang Romo parokinya ini sesungguhnya mimpi tiap umat kepada Romonya. Maka, kalau ada umat yang mengeluh, jangan ‘ewuh’ apalagi menjauh! Kita ikuti kisah Maria ini.
Inti kisah Maria di bagian ini. Imannya makin kuat, karena Romonya: “Saya merasakan kehadiran Yesus dalam kehadirannya. Romo akan selalu ada di hati. Doa terbaik buat Romo Tandyo. Semoga kelak kita semua akan berjumpa kembali dalam kebahagiaan kekal. Amin.”
Kami, khususnya saya mulai kenal dekat Romo Tandyo sejak pindah dari Paroki Ratu Pencinta Damai (Pogot). Setelah Romo tinggal di Kepanjen saya mulai jarang bertemu dan berkomunikasi. Terlebih setelah pandemi datang. Saat mendengar Romo masuk RS dan akhirnya berpulang ke rumah Bapa, ada perasaan sedih dan bahagia. Sedih karena tidak akan pernah berjumpa lagi, bahagia karena Romo sudah sembuh dan memulai hidup baru yang bahagia bersama Bapa.
Tetapi sejatinya Romo tidak akan pernah benar-benar meninggalkan umat yang dicintainya. Sebab banyak teladan kasih, kesabaran, ketegaran, kerendahan hati dan kebijaksanaan yang akan tetap hidup di hati setiap umat yang mengenalnya.
Romo Tandyo memiliki pribadi yang sangat penuh perhatian. Ketika mengetahui saya sedang sakit dan tidak hadir di rapat Legio yang didampinginya, Romo langsung telepon dan menanyakan bagaimana keadaan saya. Romo berjanji mendoakan kesembuhan saya. Sungguh saya merasa memiliki seorang Ayah yang penuh kasih.
Romo Tandyo juga menjadi teladan kesabaran bagi saya, Romo tidak pernah membicarakan kekurangan orang lain, Romo juga sabar mendampingi dan mensuport saya, terutama dalam mewartakan Firman Tuhan.
Romo Tandyo dengan rela hati mendampingi saya hadir di rumah-rumah umat saat ada pertemuan kelompok kecil Kitab Suci. Yang luar biasa, Romo tidak pernah mencela, walau tahu pasti banyak kekurangan saya. Tapi Romo selalu dan selalu mensuport dalam diam dan dalam senyum. Pendampingannya selalu membuat saya merasakan kehangatan seorang Ayah (bukan yang lain).
Keteladanan lain dari Romo Tandyo adalah ketegarannya. Selama mengenal dan bersama Romo, saya tidak pernah mendengarnya mengeluh. Bahkan Romo pernah mengatakan panas ataupun hujan juga dari Tuhan, dijalani saja. Saat bersamanya, ketika sakit, Romo tidak pernah mengeluh. Bahkan, ketika pinggangnya sakit pun, Romo masih berkeliling ke rumah-rumah umat untuk memberikan pengakuan dosa dan sakramen perminyakan. Pendek kata, jika sampai Romo mengeluh itu berarti sakit yang dirasanya sudah tidak bisa ditahan.
Ketika ada peristiwa penting dalam hidupnya, Romo Tandyo hanya minta didoakan agar ditambahkan iman. Sungguh sebuah keteladanan yang luar biasa, bahkan seorang Imam pun masih membutuhkan rahmat iman, apalagi saya.
Sebenarnya terlalu banyak kenangan bersama Romo Tandyo yang tidak pernah habis untuk dikenang dan dibagikan, saya bersyukur pernah mengenalnya dan dekat dengannya.
Salam sehat. Umat mengeluh? Jangan menjauh!
…
Jlitheng

