“Bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh Imam-imam?” (Matius 12: 4).
Begitulah, setiap peristiwa itu harus dibaca dengan teliti, supaya tidak salah menilai.
Setiap tindakan itu harus dilihat konteksnya, supaya tidak salah berpendapat.
Setiap pribadi itu harus dikenali, supaya tidak asal menghakimi begitu saja.
Ketidak-telitian, salah berpendapat dan asal menghakimi itu kadang-kadang jadi hal yang menyulitkan bagi hidup kita. Karena ketiga hal itu, bukannya kita yang mau menilai, tapi sebaliknya kita sendiri yang dinilai.
Bukan dinilai untuk hal yang baik, melainkan yang buruk. Karena kita tidak teliti, salah berpendapat, dan asal menghakimi.
Apalagi jika sudah terbelah jadi dua kelompok. Ambil contoh di negara kita: Indonesia. Kondisi di negara kita, sedang tidak baik-baik saja.
Kadang kecerdasan yang tidak dibarengi dengan kebijaksanaan itu membuat kita bukannya tambah pinter, melainkan jadi keblinger.
Kadang kelihaian berkata-kata yang tidak dibarengi dengan kecermatan itu membuat kita bukannya tambah mengagumkan, melainkan jadi memuakkan. Tidak mudah memang. Karena itu kita dituntut lebih teliti dalam banyak hal.
Demikian cara Yesus berpendapat: “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang lebih penting daripada Bait Suci. Jikalau kamu tahu arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang-orang yang tidak bersalah ini. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Matius 12: 6-8).
Jitu dan menohok, karena tepat pada sasaran. Itulah kecerdasan yang dibarengi dengan kebijaksanaan dan kematangan spiritual.
Tidak hanya bisa melihat konteksnya, tapi juga makna yang lebih mendalam di balik semuanya itu.
Tidak berhenti di situ, tapi memberi visi yang baru. Perubahan cara berpikir. Mengambil tindakan, untuk mengilhami perubahan itu agar jadi baik dan bijak! Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

