Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Beberapa saat lalu, ada KTT Asean 42 di Labuan Bajo – Flores NTT, di salah satu destinasi wisata super premium. Kebijakan regional dibicarakan oleh para pejabat tinggi Negara Asean, demi kepentingan kehidupan bersama. Namun, ada juga fakta kepentingan masyarakat lokal yang sedang bermasalah, misalnya soal kepemilikan tanah.
Obyek yang menjadi maskot destinasi wisata super premium adalah Naga Komodo dan alam lingkungan yang eksotik. Ada perbedaan kepentingan antara bisnis wisata dan keberlanjutan komunitas lokal yang berbasis adat budaya. Atas fenomena aneka perbedaan kapasitas dan kepentingan itu, saya catat dalam sajak:
Berhembus Angin dari Komodo
Para nelayan melukis ombak
ikuti gerakan arus gelombang
Memetik sinar mentari senja
Mengambil lipstik di bibir pantai
warnai telapak dan wajah sanubari
dengan kuas jiwa bahari
berpacu dalam perlombaan hari
mengejar ruang yang tak pasti
Untuk bisa labuhkan jejak kaki
membawa pulang sebutir rezeki
Berhembus angin dari Komodo
desah nafas sejarah purbakala
yang tersengat kilau digital
Sejuta mata anak milenial
datang pergi mencari pribadi
berkelana mengejar makna arti
hakikat jati diri pribadi
pada biru samudera nirmala
pada bukit gersang mempesona
pada pasir pantai merana
digiring aneka selera rasa
Kreasi pemodal dan penguasa
dengan kemasan kata-kata
tentang aneka keajaiban dunia
Ada di Komodo Labuan Bajo
Berhembus angin dari Komodo
desah merana naga purbakala
hadapi hingar bingar pariwisata
Dan
sejuta tanya para warga
yang silau dan buta matanya
oleh kilau gemerlap digital
karena kemampuan dirinya masih tradisional
hadapi aneka tuntutan milenial
di arena wisata super premium
Seperti pasir dihempas ombak
dan arus gelombang samudera
Berhembus angin dari Komodo
lerai aroma parfum zaman
yang membius nafas lautan
yang menginjak pantai dan bukit
yang memenuhi ruangan mewah
Tinggalkan puing cerita indah
pada relung debu telapak
pada gua sunyi menganga
pada wajah sawah ladang
pada perut petani nelayan
pada tenggorokan para pedagang kecil
pada kening para buruh lokal
pada kantong pejabat daerah
Karena
tak punya sayap untuk terbang
menjelajahi pesona dunia maya
Berhembus angin dari Komodo
Tak sampai di ruangan mewah
tempat para pemodal berpesta
tempat para pejabat pertemuan
tempat para pebisnis berkompromi
tempat para elit berdiskusi
Karena kewenangan menutup ruangan
udara diatur mesin canggih
Kekuatan Iptek, modal dan kuasa
juga kekuatan senjata
Ini zaman digital milenial
Ini pariwisata super premium
Kata-kata bisa diproduksi medsos
Badai topan bisa diperintah
hujan panas bisa diatur
Untuk kendalikan alam raya
dan lumpuhkan daya manusia
Jika mau bergerak dan bicara
kepentingan yang melawan agenda zaman
keperluan yang menghambat bisnis
pendapat yang menentang aturan
suara sumbang pada kekuasaan
Berhembus angin dari Komodo
hanya ingatkan fakta alamiah
hanya pesan jagat raya
Tentang relasi hakiki manusia
Tentang hukum alam semesta
Tentang harkat martabat manusia
Tentang relasi kata dan makna
Kata kreasi, inovasi kolaborasi
jadi berkat sekaligus bencana
jadi madu sekaligus racun
Jika berbeda nilai dan kemampuan
antar sesama saudara manusia
di suatu wilayah dan kesempatan
di Komodo dan Labuan Bajo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

