Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ada banyak kegiatan ritual sehubungan dengan tradisi adat budaya dan keagamaan. Kegiatan ritual menjadi warisan tradisi dan kebiasaan yang sakral. Namun tidak semua melakukan, karena makna dan prinsip spiritual yang terkandung dalam ritual itu sudah kebiasaan seperti itu, jadi ya dilakukan.
Setiap pribadi, kelompok dan komunitas pasti memiliki penghayatannya dan posisi sikapnya dalam menjalankan tradisi ritual, baik adat budaya maupun agama. Dalam konteks keagamaan, khususnya Kristen Katolik, ada ritual dan devosi terhadap Bunda Maria pada Bulan Mei dan Oktober, juga ada devosi salib. Saya mencatat refleksi terhadap tradisi ritual itu dalam sajak:
Antara Ekoleta dan Yerusalem
Kisah itu terulang kembali
Peristiwa 2000 tahun lalu
Yesus masuk kota Yerusalem
disambut sorak sorai gembira
Daun-daun palem dilambaikan
Kain dan baju dibentangkan di jalan
agar dilewati Sang Raja dambaan
yang menunggang keledai
Namun
sesudahnya diarak dan dihina
memikul salib menuju Golgota
wafat di salib penuh nista
karena dendam buta penguasa
Hari ini di berbagai wilayah
ada generasi muda bersukacita
Tumpah ruah mengarak salib Yesus
masuk ke luar kota dan kampung
dengan tarian dan nyanyian
dengan pesona adat budaya
dengan damba dan harapan
dengan iman doa kepercayaan
Berziarah mengarungi gelora zaman
Antara Ekoleta dan Yerusalem
terikat erat tali kasih Ilahi
tali iman harapan hakiki
tentang cinta dan damai sejati
Relasi damai antara manusia
Relasi harmoni insani Ilahi
dari pribadi yang sadari diri
dari insan yang rendah hati
Antara Ekoleta dan Yerusalem
kembali ditegaskan fakta pilihan
ada yang tidak mau percaya
ada yang menolak rencana Allah
ada yang mencibir dan memfitnah
Karena
merasa tak perlu iman
karena tak percaya Pencipta
karena banggakan kepercayaan otak
karena kesombongan menguasai diri
Bahkan
ada yang mau membantu Allah
dan perdagangkan agama
“Ekspresi kebebasan pilihan pribadi”
Antara Ekoleta dan Yerusalem
ada tanya dan jawaban misteri
Kayu palang salib diimani
sebagai peringatan fakta sejarah
sebagai lambang keselamatan jiwa
sebagai sumber kekuatan pribadi
sebagai bukti kasih Ilahi
sebagai sumber cinta sempurna
Sang Putra Penebus dosa
korbankan tubuh darah mulia
demi keselamatan semua manusia
Antara Ekoleta dan Yerusalem
Pelangi semesta tebar pesona
menyapa setiap hati sanubari
di zaman kilau digital milenial
“Masih adakah iman di bumi
yang menerima rencana Ilahi
mau percaya dan rendah hati”
Antara Ekoleta dan Yerusalem
fakta kebebasan insan ditegaskan
untuk memilah dan memilih
menurut selera dan akal saja
atau juga hati sanubari
menyadari kodrat sejati insani
Antara Ekoleta dan Yerusalem
ada pertandingan akal dan iman
ada gugatan iptek dan jiwa
ada peperangan akal manusia
Hanya mengejar kebutuhan raga
Hanya memuaskan selera rasa
Hanya agungkan kehebatan otak
Atau
juga merawat hati nurani
Harus menjamin keselamatan jiwa
dengan iman dan doa
“Iman yang menolong budi
karena indera tak mencukupi”
Antara Ekoleta dan Yerusalem
Bergema amanat Sabda sakti
“Thomas, karena melihat maka engkau percaya
Berbahagialah yang tidak melihat
namun mau percaya”
Dan
setiap orang punya kebebasan
untuk buat keputusan pribadi
“Percaya atau tidak
terhadap Yesus dan salib-Nya
Jalan keselamatan Maha Cinta”
…
Foto ilustrasi: Istimewa

