Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ada bahasa untuk ungkapan pengelaman, baik bahasa lisan maupun tulisan. Makna kata bahasa dari pemiliknya, sering berbeda ditangkap oleh pendengar atau pembaca. Maka, bisa terjadi kesalahpahaman dan masalah.
Tentang kata bahasa setiap pribadi, dalam relasi antara manusia itu, saya catat refleksinya dalam sajak:
Jemari Mengalirkan Kata-kata
Hujan panas silih berganti
pergi datang meruwat pribadi
Bangun rumah pengalaman kodrati
menenun suka duka diri
dalam dinamika musim sejarah
Pernak-pernik paradoks misteri
“Pada mulanya hanya kata
Kata menjelma jadi semesta
semua ada dan terjadi”
Ada pengenalan diri pribadi
tumbuh pada ladang luas
Ada relasi sesama insani
tersebar di belantara zaman
Ada gelora energi perubahan
bergemuruh di samudera biru
Pikiran dan kebutuhan mengembara
Harapan dan fakta berkelana
Jelajahi pulau dan benua
Lintasi samudera angkasa luas
“Menyantap tanya kenyangkan jiwa
Meneguk damba segarkan nurani”
Jemari alirkan kata-kata
dari cakrawala suka duka
Jemari menulis rintihan gerhana
ungkapkan resah kecemasan
Jemari melukis jeritan debu tanah
ceritakan jejak langkah pergulatan
Jemari ceritakan lara nestapa
lukiskan jarak fakta dan mimpi
Jemari kisahkan tawa ceria
kemesraan embun dan sinar pagi
Jemari alirkan kalimat syair
aneka jawaban dari tanya
dari relung jiwa raga manusia
Mata air sanubari menari
basahi liku-liku sungai pikiran
selama desah nafas bisa berlari
dan desir darah masih berpacu
Jemari mengalirkan kata-kata
pada luas hutan belantara
pada biru nirmala samudera
pada gersang debu tanah
pada kertas dengan tinta
pada kanvas dengan warna
pada instrumen dengan nada
pada layar dunia maya
meraih damba dengan makna
“hidup itu fakta dan kata tanya”
…
Foto ilustrasi: Istimewa

