Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Atas kematian orangtua yang diberkahi umur panjang, maka setiap komunitas adat budaya mempunyai ritual penguburan. Dalam kedukaan, karena perpisahan dan kehilangan, disertai dengan senyum doa syukur atas anugerah umur panjang.
Pengalaman ritual budaya di kampung, saat penguburan jenazah orangtua berumur 95 dan 85 tahun, memberi makna pengalaman tersendiri. Lalu, saya tuangkan dalam sajak:
Air Mata dan Irama Gong Gendang
Derai air mata berhamburan
penuhi ruang keluarga
halaman dan jalanan
Tebarkan senyum sukacita
gerakan kaki ikuti irama
lambaikan selendang goyang gemulai
Enyahkan debu tanah
bentangkan karpet ziarah misteri
“Raga kembali ke bumi
Jiwa pulang kepada Ilahi”
Butiran air mata menari
Ikuti irama gong gendang
Ditabuh angin semilir sepoi
diiringi nyanyian sinar mentari
Gerakan gemulai jiwa sanubari
energi misteri kodrati bersemi
“Hidup manusia di bumi
Semua realitas jagat semesta
Adalah tarian kreasi abadi
dengan energi perubahan hakiki
Oleh Sang Penari Ilahi”
Derai air mata dukacita
sungguh pengalaman nyata manusia
Tarian air mata sukacita
memang fakta ekspresi manusia
Gong gendang pikiran insani
ciptakan irama makna nilai
Lukiskan rindu damba sanubari
Bunyikan rasa suara hati
Terlihat dalam tarian air mata
berpadu melebur jadi satu
mentari dan debu pun menyatu
dalam dinamika ruang waktu
Tetap misteri dan tak menentu
Ada perayaan kodrati dukacita
Raga kembali pada debu tanah
Ada pesta misteri cinta
jiwa pulang pada Pencipta
Hitungan umur berakhir angkanya
Desah nafas pribadi berhenti
Desir darah sudah usai
Pribadi penuhi hukum kodrati
Lahir, hidup, dan mati
…
Foto iluatrasi: Istimewa

