Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Sering kali, karena berbagai alasan dan dukungan sarana, membuat pribadi bisa tersesat. Menipu diri sendiri dan meyakini kebohongan diri sebagai kebenaran mutlak, serta semua orang bisa dibohongi.
Padahal, fakta realitas terbalik dengan kebohongan diri yang diyakini. Lalu, akhirnya semua palsu dan ketahuan, bahwa kebohongan diri tidak abadi dan hanya palsu itu sementara.
Upaya untuk merefleksi kesadaran diri agar hidup makin sahaja, rendah hati, dan melakukan kejujuran itu, saya tuangkan dalam sajak:
Seperti Ombak Memecah di Bibirmu
Sudah kita dengar bersama
kata bijak para leluhur
“Siapa menabur angin menuai badaiโฆ”
mengapa masih terus kau hembuskan
Tipu daya dan kebohongan
dengan kesaksian dusta palsumu
agar menangkan selera nafsumu
Dan
semua orang lihat menonton
tanganmu berlumuran darah sesama
Sampah berserakan di seluruh tubuhmu
Bau tengik comberan kejahatanmu
Para tetua di kebun ladang
Ajarkan fakta hukum alam
“Tanaman benih buah mangga
Tidak pernah tumbuhnya kelapa
Lalu berbuah padi jagung
untuk menjadi panenan rezeki”
Dan
dengan membusungkan dadamu
engkau bersumpah di atas Alkitab
dengan menyebut nama Allah
untuk membenarkan kebohongan dirimu
Karena masih punya uang
untuk membeli jasa informasi
untuk membayar para pejabat
untuk membungkam pasal hukum
untuk proklamirkan laknat bejatmu
Engkau hebat luar biasa
Keyakinanmu gelora gelombang samudera
tak berhenti hempaskan ombak
dari bibirmu matamu otakmu
Berbuih membasahi pasir pantai
kau anggap sesama seperti pasir
Pasti diam dan terus membisu
ikut saja kata dan maumu
Meskipun fakta sampah bertebaran
dan bau tengik kejahatanmu
merebak di atas darah korban
dan luka derita para keluarga
Hati jiwamu penuh racun
Hari ini
seperti hari-hari kemarin
dan nanti tak berhenti
Ombak terus memecah di pantai
Tetapi
tipu daya kebohongan mulutmu
segala upaya bejat jahatmu
Tak pernah bisa kau tutupi
dengan uang jabatan dan licikmu
Karena
Hukum alam tak bisa disogok
Fakta kebenaran tetap lestari
seperti sinar cahaya mentari
seperti kakimu menginjak bumi
seperti nafasmu menghirup angin
Dan
semua insan pasti mati
kembali menghadap Sang Ilahi
Engkau seperti hidup abadi
Teruslah berdiri di pantai
biarkan ombak pecah di bibirmu
yakini gelombang engkau kendalikan
telan samudera dalam perutmu
padamkan mentari dalam mulutmu
Dan
Engkau sembunyikan gulita malam
pada rimba belantara rambutmu
Sambil bisikan pada keluargamu
panen kemenangan hasrat birahimu
seperti birahi kucing kesurupan
berkejaran di remang malam
tertawa bersama para sahabatmu
karena yaqin dunia milikmu

