Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Tentang berbagai pengalaman hidup manusia, tidak semua orang mampu merefleksikan dan menulisnya. Ada sejarawan, ilmuwan dan jurnalis menuliskan temuannya. Ada juga para sastrawan dan penyair yang menangkap maknanya dan menuliskan aneka pengalaman manusia.
Kagum pada para sastrawan dan penyair, saya ibaratkan mereka seperti nelayan yang hidup begitu akrab dengan samudera raya. Lalu, saya catat refleksi itu dalam sajak:
Nelayan, Samudera dan Sajak
Siang hari terik menyengat
Nelayan menikam lautan biru
lerai ombak dan gelombang
Memancing huruf dan kata
lalu dibawa pulang ke pantai
ditebar di hamparan pasir ingatan
Malam gelap gulita
entah musim hujan badai
entah saat teduh bahari
Nelayan dengan sampan perahu
menjala bintang dan bulan
kumpulkan cahaya mentari
agar saat kembali di pantai
Dianyam jadi kalimat indah
bait-bait sajak bermakna
Nelayan bertemu angkasa di lautan
Nelayan berjumpa pulau benua
juga di dalam rahim samudera
Ada sejuta peristiwa semesta
tersimpan di ruang samudera
Kisah cerita suka duka manusia
dititip catatan jemari angkasa
dipatrikan cahaya mata fajar
Nelayan menghampiri dan meraih sinar
Nelayan gerakkan rahasia samudera
dengan pena nalar jiwanya
Membentangkan di hamparan pasir
Bait-bait puisi rahasia insani
Ayat-ayat syair misteri
Dan
Ombak gelombang tak henti
pergi datang setiap hari
membaca dan hempaskan cinta
Mata air mengalir ke muara
meraih kasih sayang asali
di hamparan pasir dan samudera
Penyair itu nelayan
Sastrawan itu nelayan
Seniman itu nelayan
Penulis itu nelayan
Berjiwa satria bahari
Bernalar lautan samudera
Sahabat karib ombak gelombang
Saudara hamparan pasir pantai
Generasi pilihan angkasa luas
Anak-anak mata cahaya
Putra Fajar – Putri mentari
Orang pilihanย pemilikย semesta
…
Foto ilustrasi: Istimewa

