Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Beberapa teman merayakan ulang tahun, lalu saya ikut diundang menikmati santapan syukur tersebut. Menggembirakan dan membahagiakan bisa terlibat belajar bersyukur, selain santapan yang nikmat. Ada juga yang meminta kado ultah dengan dituliskan sajak.
Lalu, sebisanya coba kubiarkan. Syukurlah bahwa mereka menyukainya dan merasa terwakili rindu damba hati sanubarinya pada saat bahagia itu. Saya pun belajar melihat hal penting apa yang menjadi latar belakang perayaan syukur itu. Hemat saya, hal kodrati manusia yang disyukuri saat HUT adalah soal nafas dan waktu, yang adalah anugerah istimewa Sang Pencipta. Lalu, kutulis dalam sajak:
Pernak-pernik Melodi Hari
Setiap hari berganti
Dawai waktu dipetik jemari
hasilkan bunyi nada harmoni
mengayam umur setiap insani
Dentingkan mimpi detik-detik
hibur fajar bulan bintang
Damaikan resah alam debu kerikil batu karang
sumur kolam sungai samudera
Syair kutulis pada nafas
berlari bacakan untuk waktu
berziarah mengukir ruang langkah
Puisi kucatat pada darah
Berkelana pentaskan pelangi
pada roda padang belantara angin
Umur tambah berjalan
Antara ada dan tiada
Dawai kehidupan terpasang
Antara hidup dan hidup
alunan bunyi makna bergema
Antara seniman dan Sang Hyang
ada langit sajak dan samudera puisi
Hari-hari tak bertepi
Silih berganti terjadi
bagi insan abadi lestari
Setiap manusia
lahir, hidup, dan mati
…
Foto ilustrasi: Istimewa

