Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sering terjadi, ada kecenderungan menilai dengan selera diri kita. Lalu, karena pengetahuan terbatas dan utamakan kepuasan selera, ada kecenderungan meyakini, bahwa selera kita paling benar. Mengadili sesama dan merasa paham menilai realitas alam raya.
Ketika belajar hening dan menata kesadaran, saya temukan kebodohan diri dan sekaligus alami begitu ajaib alam ciptaan yang sehari-hari terjadi. Salah satunya seperti kelelawar, yang siang hari tidur, malam mencari rezeki. Bisa melihat dalam gelap gulita, tahu buah yang masak. Lalu, kucatat kesadaran akan keajaiban alam itu dalam sajak:
Malam Minggu Bersama Kelelawar
Bulan Sabit menoreh kanvas langit
beberapa bintang diam menyaksikan
apa wajah lukisan gulita
apa potret sosok kegelapan
Antara Nyepi, Puasa dan Ramadhan
Antara ibadah, ritual dan kebiasaan
Antara rindu damba sanubari, taati aturan sakral dan memanfaatkan label agama
Antara jawaban panggilan Ilahi, rutinitas adat budaya dan kesempatan memuaskan selera mengejar hasrat
Yang dijalankan manusia di tanah air
dalam ruang waktu yang bersinggungan
Ada warna-warni pilihan keputusan insani
Lalu
Bulan Sabit perlahan lenyap dirangkul samudera
Di bawah rimbun pepohonan
kubakar tanya hembuskan asap galau
ingin kusibak tirai misteri malam
ingin kulihat lukisan bulan sabit
Dan
Sekelompok kelelawar menjemputku untuk berkelana
Lintasi pucuk-pucuk ruang jiwa
mereka yang sedang samadhi
mereka yang sedang taraweh
mereka yang sedang meditasi
terus kusyuk sujud beribadah
Berbeda dengan lukisan bulan sabit pada kanvas gulita
Kami menyibak malam mencari buah makna yang matang
dalam hamparan ladang kegelapan
dalam rimba belantara persaingan
dalam gelombang samudera kepentingan
Agar pulang dengan jawaban hakiki
Untuk kelaparan jiwa sanubari
Untuk dahaga hati nurani
Untuk harapan nalar pikiran
Lalu beristirah di siang hari
Kawanan kelelawar bisikkan rahasia
Bagaimana mereka miliki kemampuan
Melihat buah dalam gulita
Mengetahui yang matang dalam kegelapan
Mencium aroma di tengah angin
Lalu
mata radar kesadaran dibuka
untuk mengenal diri dan sesama
untuk bersahabat dengan alam
untuk mendengar suara semesta
untuk melihat wajah misteri
yang menulis sejuta tanya insan
yang mencatat semua jawaban Pencipta
dalam buku rahasia semesta
Malam gelap gulita
Bukan kejahatan salah dosa
Tetapi
fakta tak ada cahaya mentari
Dan
masih ada makna kehidupan
tergores lukisan kebijaksanaan
Bagi kelelawar dan rindu damba
pada buah makna yang matang
Untuk lapar raga insani
Untuk dahaga jiwa manusia
Seperti ikan dalam rahim samudera
seperti kelelawar dalamย ladangย gulita
…
Foto ilustrasi: Istimewa

