Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Banyak pengalaman dibiarkan berlalu sebagai kebetulan atau rutinitas, karena fokus pikiran adalah kesibukan kerja untuk memenuhi aneka kebutuhan. Waktu 24 jam sehari sepertinya kurang untuk bisa melakukan aneka kegiatan untuk mencukupi kebutuhan rutin keluarga.
Ketika diberi perhatian, dengan arahkan jiwa raga pada keajaiban alam, maka banyak hal ajaib dan penuh makna bisa dikagumi dan disyukuri. Pengalaman itu saya catat dalam sajak, sekaligus mengisi peringatan hari puisi sedunia yakni:
Tiga Sajak Hari Puisi Sedunia
- Pinus Menikam Langit
Pada bukit gersang terhampar
huruf kata ditabur angin
Pada lembah hijau berkelok
kalimat seperti sungai mengalir
Pada cuaca dingin beku
dan terik gurun pasir
bait puisi tetap menghijau
Dedaunan Pinus menyaring zaman
Tegar kokoh membelai angin badai
Kumpulkan energi
menggapai wajah mentari
Setiap hari menikam langit
dengan tombak lara derita
dengan jarum rindu damba menjahit asa
Merajut warna-warni suka-duka
Melukis pelangi kehidupan manusia
Sabda – kata terus menjelma
dalam puisi dan sajak
- Mawar di Pelukan Ilalang
Embun pagi berkilau tersenyum
Saksikan mawar di pelukan ilalang
daraskan sapaan mantra harmoni
Lagu perbedaan nyanyian kodrati
Jemari ilalang membelai kembang
terpesona warna dan aroma
Sambil membisikkan kata puisi
” Kalian berduri tapi indah menawan
Harum mempesona istana sorgawi”
Dan
Syair mawar pun berkumandang
“Wahai Ilalang, kalian luar biasa
Selalu selimuti dahaga bumi
menyimpan aneka khasiat
Mendekap erat wajah buana
Simpan makna kaya dan mujarab untuk manusia dan lingkungan”
- Tarian Belalang, Burung dan Serangga
Pada halaman rerumputan hijau
burung-burung menulis sajak
tentang
“memanen rezeki tanpa menabur”
Pada aneka kembang warna-warni
serangga membuat sajak indah
Tentang
memanen manisnya madu kasih dan pertemuan cinta putik dan sari bunga
Pada rumput dan dahan pepohonan
Belalang menari menulis kata bijak bermakna
Tentang
sajak lapar kasih sayang
dan Soneta dahaga harmoni cinta
…
Foto ilustrasi: Istimewa

