Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Ada catatan pengalaman sejarah budaya terpatri di seluruh wilayah Pulau Flores, Bumi Naga. Warisan adat budaya masih jelas dihidupi, pengaruh koloni Portugis dan Belanda sangat kuat melalui agama Katolik, lalu dinamika sejarah pembangunan NKRI, dan terus dasyat menguasai semuanya adalah pengaruh IPTEK, uang diwarnai sarana komunikasi digital.
Maka saya mencoba mencatat wajah dinamika perubahan di Bumi Naga Flores, dengan sajak:
Antara Larantuka dan Labuan Bajo
Sayup terdengar di kota Renya
alunan irama nafas jejak Portugis
dan senandung lagu Bale Nagi
untuk semua yang merantau
tinggalkan Lewotana tercinta
Para Ina mengolah jagung Titi
Para Ama ada yang ke laut dan ada yang di atas pohon lontar mengambil susu dan madu
Generasi muda masih asyik menari Dolo
Soka seleng Mura rame
mengawal Ile Mandiri, Ile Boleng, Ile Ape Laba Lekang, Ile Wuko dan Lewotobi
Memohon benza Tuan Deo
Ema Tana Ekan, Bapa Lera Wulan
Tinggalkan Larantuka masuk Maumere manis e
Lambaian nyiur dan lontar
belai terik dan deru debu
lerai keringat para penari Hegong
dipacu tabuhan gong kendang
Di pucuk candi gereja tua
burung pipit menjaga salib
menemani Bunda Segala Bangsa
yang setia merangkul arus laut Selatan dan Utara
dan barisan berjubah yang menerjang ombak zaman
menjala angin perubahan dengan Rosario
Putra Ina Nian Tana
Putri Ama Lero Wulan
Memsuki pelukan Tanah Lio
Nyanyian bukit dan gunung menggema
gerakkan kaki penari Gawi
bertandak dan daraskan syair
Kisah leluhur tentang misteri
Bumi Naga Nusa Nipa
dan Kelimutu mustika penopang langit
memotret mosaik keajaiban semesta
yang dipatrikan di kota Ende
pada mantra jatidiri NKRI
Sosok Burung Garuda Pancasila
Wahyu Du’a Nggae bagi dunia
Tua muda lelaki perempuan
lambaikan heroik keperkasaan jiwa
hentakkan kaki menari Ja’i
Bacakan wasiat para leluhur
yang terpatri kokoh lestari
pada Peo ngadhu Bagha
Energi sakral generasi pewaris
tanah Boawae, Nagekeo, Bajawa dan Ngadha
dalam rangkulan dada Inerie
putra-putri peziarah zaman
lintasi pulau dan lautan
Dipandu Dewa Getha Nitu Zhale
Barisan sejuta lilin tersenyum
menyapa dari hamparan hijau daun
Aroma kopi alam Manggarai
Wajah khas Bumi Congka Sae
Lalu
Selimut kabut kota Ruteng
obati lelah langkah ziarah
menyusuri Pulau Ular Bumi Naga
sebelum sampai di istana Komodo
Panglima pasukan Bumi Naga
yang jadi ikon wisata dunia
Dan
Pesona pantai Labuan Bajo
kota wisata super premium
Ingatkan semangat nenek moyang
Para pelaut bersemangat bahari
satukan Nusantara dan dunia
dengan selembar layar tekad
dan dayung rindu damba
menjengkal lebar wajah samudera
Angin sejuk daraskan mantra
lapar sukma dahaga jiwa
generasi penghuni Bumi Naga
pewaris tanah Pulau Ular
Melangkah menuju Poco Ranaka
sujud sembah Mori Kraeng
Hormat dan pujian bagimu
Sang Pemilik Semesta Alam
Yang kami sapa dengan nama sakral makna
OโฆMori Kraengโฆ..
OโฆDewa Zheta Niti Zhale
Oโฆ Du’a Lulu Wula, Nggae Ghale Wena Tana
O Ina Nian Tana,
Ama Lero Wulan
Oโฆ Ema Tana Ekan
Bapa Lera Wulan
Terima kasih atas Bumi Naga
Sykur atas Pulau Ular
Kami manusia dan alamย anugerah-Mu
…
Foto ilustrasi: Istimewa

