Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Kasus politik tragedi 1965 sungguh menjadi luka bangsa, dan keluarga korban terus merana. Para korban lenyap ditelan bumi, mereka yang hidup dapat stigma sosial dan politik, “keluarga PKI”. Lalu, untuk mendoakan kedamaian jiwa para korban, ya bisa dilakukan, namun secara budaya dan agama, ada kerinduan mengetahui tempat bersemayam jasadnya.
Karena masih bisu dan tanpa alamat jelas, entah karena apa, maka sampai sekarang harapan itu seperti sirna. Bahkan ada semacam gugatan iman yang saya dengar dari keluarga korban. Saya catat ekspresi batin itu dalam sajak:
Membakar Diam di Kaki Salib
Kubawa api di kaki salib-Mu
mau kubakar diam yang gersang
mau kusulut bara nyala lara
mau kuhanguskan pasungan diam
mau kuhilang lenyap kan semua tipu daya
Agar
Engkau mau menjawab tanyaku
Engkau yang kusembah, meski tak paham makna
Engkau yang kupercaya
meski tidak mengenal pribadi-Mu
Engkau yang sudah kuikuti
meski hanya karena tradisi
Engkau yang kumohon berkali-kali
“Di manakah pusara ayahku
Di mana kubur kakekku
Mengapa mereka harus dibantai”
Di bawah kaki salib ini
Sekarang kudatang membawa api
berdiri di kaki salib misteri
Kejadian tragis-Mu 2000 tahun yang berlalu
tetapi masih diperingati setiap tahun
Bahkan dirayakan setiap hari
oleh pengikut-Mu di seluruh dunia
Dan
terus kubertanya dengan lara
terus kugugat dengan derita
Kubawa api nyala membara
“Mengapa Engkau bicara dan mengampuni para serdadu algojo
Mengapa Engkau menjawab dua penjahat yang disalibkan bersamaMu
Tetapi pertanyaan doaku tidak Engkau jawabโฆ
Di mana kubur ayah dan kakekku
Di mana pusara mereka yang dibantai dengan cap PKI
Di mana lokasi ditimbun jazad tragedi 1965-66″
Kubawa api rindu damba
Kugendong panas bara tanya
Kugenggam nyala gugatan hati sanubari
Mau kubakar fakta diam bisu
dari pejabat negara dan sesepuh
yang menutup mulut kami keluarga
yang mengikat jiwa anak cucu
yang membelenggu harkat martabat
yang pasung hak kebebasan pewaris
Untuk tahu di mana pusara
Untuk temukan lubang pembantaian
Untuk bisa ritual doa
bagi kedamaian jiwa mereka
yang menjadi korban permainan
demi nafsu kekuasaan politik
dan korbankan jutaan manusia
Kasus tragedi 1965-66″
Wahai Engkau yang disalibkan
menderita sengsara wafat bangkit
Dipercayai ratusan juta pengikutMu
yang tersebar seluruh dunia
Engkau yang membuat mujizat-Mu
Engkau jalan kebenaran hidup
Engkau janji memberikan kelegaan
bagi yang letih berbeban berat
“Apakah aku tak layak dijawab doaku
padahal aku juga pengikut-Mu
Apakah Engkau hanya pilih kasih pada para penjahat dan mengampuni para penyalib-Mu
Ataukah
memang aku tak layak mendapat jawaban dan mujizat-Mu
Ataukah
memang Engkau menyetujui pembantaian para ayah dan kakek kami
yang dibantai dengan cap pengikut PKI
pada kasus tragedi 1965-66?”
Kubawa api di kaki salib-Mu
mau kubakar diam yang gersang
mau kusulut bara nyala lara
mau kuhanguskan pasungan diam
mau kuhilang lenyap kan semua tipu daya
“Apakah harus dengan membawa diri-Mu
Apakah harus membakar salib-Mu
Lalu
pergi meninggalkan iman kepadaMu
Dan
menggantung diri di hutan rimba
Sehingga bisa bertemu gentayangan jiwa ayak dan kakek kami
yang jadi korban tragediย 1965-66″
…
Foto ilustrasi: Istimewa

