Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Setiap orang harus memilih dan memutuskan untuk berkata dan bertindak, entah apa pun alasan dan kepentingannya. Lalu, ada akibat dari pilihan dan keputusan itu, baik bagi dirinya maupun sesama di sekitar serta alam lingkungan.
Tentang perjuangan memilih dan memutuskan itu, saya mencatat dalam sajak:
Derap Kuda-kuda Berlari
Derap kuda-kuda berlari
dicemeti hasrat desah membara
membakar gelora angan penunggang
Lintasi belantara zaman membentang
antara dusun kampung dan kota
meraih tatapan sosok galau
yang terpesona menatap menanti
dalam deru debu milenial
Derap kuda-kuda berlari
di bawah kekang cambuk kusirnya
menarik roda delman nasib
lintasi kota yang hiruk pikuk
menyibak deru bising kendaraan
Hanya untuk mengantar penumpang
yang naik karena bertamasya
atau para ibu yang pulang pasar
Dan
sang Kusir harapkan rezeki
dari nafas dan langkah kudanya
yang menarik delman perjuangan
Derap kuda-kuda berlari
menyusuri hamparan pasir pantai
menapaki bukit pegunungan
Sambil di kawal para pemiliknya
agar wisatawan yang menunggang
terhibur dengan pengalaman unik
Berkesempatan naik kuda wisata
dengan rasa was-was cemas
sekaligus tertawakan sosok diri
mencari sensasi dan hiburan
di atas punggung kuda sewaaan
Derap kuda-kuda berlari
karena sudah terlatih istimewa
Untuk upacara protokoler di militer
Untuk berpacu dalam perlombaan
Untuk ditunggangi saat ritual adat
melakukan keperluan khusus manusia
meraih mimpi dan gengsi
mengejar angan dan damba
Menguras nafas dan tenaganya
dikekang nafsu dicemeti kesombongan
Derap kuda-kuda berlari
mengejar angin padang Savana
melintasi belantara alam lingkungan
Menari diiringi nyanyian hujan
Tersenyum dibakar irama mentari
Berdendang meneguk segarnya sungai
Bercanda gurau di rerumputan hijau
Kuda-kuda di alam bebas
Tanpa kekang rayakan kebebasan
Tanpa cemeti melukis harapan
Padukan waktu siang dan malam
sematkan mantra bagi generasi milenial
Berpacu di layar digital zaman
gerakan jemari menulis peradaban
Dengan energi kasih sayang
berlari merayakan kemerdekaan
menenun waktu tanpa kekang
menghias ruang dengan pelangi
…
Foto ilustrasi: Istimewa

