Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Fakta adanya korupsi di bangsa dan NKRI sungguh hal memprihatinkan. Dari deretan kasus hingga menjadi budaya. Penegakkan hukum menjadi gugatan, namun hal yang lebih mendasar adalah soal kualitas pribadi para pelaku korupsi. Korupsi itu mencuri uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompok para pelaku.
Lalu saya catat releksi itu dalam sajak:
Daun Kering, Korupsi dan Kekuasaan
Suara lirih bersama masyarakat, yang mengalami akibat korupsi namun tak berdaya mengatasinya.
Satu per satu terjatuh
daun-daun kering dari pohonnya
Sembari senyum penuh bangga
lambaikan tangan pada kegalauanku
Mereka tahu yang kupikirkan
Tentang beranak pinak korupsi
yang seperti jadi budaya luhur
Tentang kekuasaan yang diperebutkan
dengan menghalalkan segala cara
Tentang penegak hukum yang zalim
menjual pasal ayat hukum
Melawan hati nurani jujur
demi memperkaya diri dan pembayar
Tentang kebencian dan kerakusan jabatan
lalu mengkafirkan lawan politik
Tentang aneka bentuk kejahatan
demi menumpuk harta dan gengsi
Ada pesan sahaja daun kering
yang lirih dihembuskan angin
sebagai hiburan galau nuraniku
“Kami daun kering bangga
Telah purna lakukan tugas
sekarang pulang mendekap tanah
untuk tuntaskan tugas terakhir
Menjadi humus bagi akar
agar tumbuhkan lagi tunas
agar hasilkan lagi daun muda
bagi kelanjutan kebutuhan pohon
Termasuk hasilkan lumbung oksigen
untuk keperluan nafas manusia
sesuai titah hukum alam
Begitulah kami telah berfungsi”
Daun pohon tidak korupsi
mencuri yang bukan miliknya
dari daun lain atau batang
Daun pohon tidak rakus kuasa
melompat berpindah lintas dahan
Daun pohon tidak iri dengki
lalu mencaci maki dan fitnah
sesama daun atau cabang ranting
Daun pohon tidak haus jabatan
menjadi buah atau bunga
atau menggantikan batang pohon
Padahal
daun tidak bernalar pikiran
daun juga tidak punya agama
daun hanya sekolah alam saja
“Ada dan selalu menjadi
sesuai tugas dan fungsinya”
Kuangkat jemari belai rambutku
kubayangkan seperti hutan rimba
Kutanyakan kedua telapak kakiku
apakah kalian letih berjalan
maukah mengganti posisi mulut
Kubisik pada selera nafsuku
mengapa kalian tak pernah puas
Kutagih ruang hati nuraniku
berapa banyak isi gudang nilai
Kugugat markas sanubari jiwaku
adakah harta iman di sana
Semuanya diam tak menjawab
karena andalkan kesadaran pribadiku
Danโฆ
sekonyong desah nafas berbisik
“Cukup sadari setiap hari
Pagi saat bangun dari tidur
katakan syukur atas alat pernafasanmu
karena masih berfungsi bermanfaat
menghirup oksigen dan hembuskan sisa udaranya
Lalu
malam saat hendak tidur
serahkan diri dalam misteri
Terima kasih saya bisa bersyukur
udara tidak mampu kubayar
saya masih bernafas sekarang
mau pasrahkan diri dalam tidur
Entah nanti masih terbangun”
Daun kering masih berguguran
dari pepohonan dekat rumah
dari taman dan hutan belantara
Ikuti irama hukum alam
Tanpa korupsi dan kejahatan
Tanpa aneka kerakusan ketamakan
Sahaja berfungsi dan bermanfaat
Ada dan terus terjadi
“Manusia mati tidak membawa harta
Dan
Harta, kekuasaan dan kesombongan
tidak mampu batalkan kematian”
Galau pikiran berubah malu
mengingat bisikan daun kering
dan pesan mensyukuri nafas
…
Foto ilustrasi: Istimewa

