Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Sejarah mencatat, bahwa dalam setiap komunitas suku dan bangsa, sesuai zaman yang berkembang dinamis, ada silih berganti suka duka kehidupan. Bisa diibaratkan seperti pancaroba musim.
Terhadap pengalaman yang merongrong harkat martabat manusia zaman now, saya ibaratkan seperti anomali musim. Lalu, refleksi itu saya tuliskan dalam sajak:
Panas di Musim Hujan
Mengingat masa kecil
ada jelas perubahan musim
musim panas dan musim hujan
Yang memberi pedoman petani
untuk mengolah kebun ladang
dan waktu panen tiap tanaman
Padi jagung kacang ubi
juga jenis buah dan sayuran
Segala sesuatu ada musimnya
Tahun berganti zaman berubah
Manusia bertambah lahan terbatas
Kampung dan kota bersambung
jalan raya listrik kendaraan
Profesi pun bertambah lagi
Pasar lokal jadi modern
serta pasar berjalan ke rumah
dan ada pasar online
Musim pun semakin berubah
Hujan panas tak beraturan
Zaman digital milenial
Hujan itu air mata laut
menangis karena sampah plastik
Mendung itu duka lara langit
karena wajah dilumuri polusi
Panas itu api keserakahan
yang membakar kehidupan insan
yang hanguskan alam lingkungan
yang kobarkan iri dengki perang
Panas di musim hujan
Hujan di tenah terik
Mendung asap sepanjang hari
Mendung hujan panas zaman
hasil karya perseteruan egoisme
fakta kreasi selera insani
Yang tak puas layani nafsu
Saat panas di musim hujan
tanaman petani layu kering
harapan rezeki pudar merana
Datang juga hama belalang
menyerang habiskan aneka tanaman
Dan
pesta pora miras narkoba
digelar para generasi milenial
diajari para pejabat koruptor
dan para politisi busuk
diilhami provokator dengan hoaks
dimotori investor rakus tamak
Sementara
para tokoh adat dan agama
banyak yang diam kebingungan
Bahkan
ada yang menjadi pendukung
koruptor, provokator dan investor
Panas di musim hujan
Mendung polusi menutup langit
sedang mencengkram jiwa generasi
terus membakar selera anak negeri
bergelora menghempas pewaris bangsa
Agar menjadi generasi robot
Agar tak punya terang jiwa
Agar kosong hati nuraninya
Agar pikirannya kotor dan buas
Agar emosinya tak terkendali
Agar raganya rusak penyakitan
Sehingga
kekayaan alam terus dikuras
tanah air tetap dikuasai
masa depan bangsa sirna
karena negara dibeli pemodal
Panas di musim hujan
Polusi sampah terus menggunung
Racun terus menyebar merasuk
Penyakit baru terus diciptakan
demi perdagangan obat pemodal
Bencana alam silih berganti
Korban-korban terus berjatuhan
Bencana kemanusiaan sungguh direncanakan
Karena
kepentingan kuasa dan harta
sekelompok pemilik modal
yang wajahnya berubah-ubah
dengan jutaan jemari sakti
menyebar ke seluruh dunia
dengan aneka mesin robot
menggerogoti jiwa raga manusia
dengan kecanggihan teknologi digital
Terus terjadiโฆ
Entah kapan usai dan harmoni

