Merindukan Kampung Halaman Tumpah Darah
Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Setiap pribadi punya cerita tentang tempat lahir, tumpah darah, entah di kampung atau di kota. Ada relasi istimewa karena sanak keluarga, sahabat karib dan alam lingkungan tempat lahir mengukir pengalaman unik dalam diri.
Ketika jauh dan terpisah dari kampung halaman, sering ada rindu karena ikatan pengalaman pribadi tersebut. Mengingat kota – kampung lahirku, saya catat dalam sajak:
Sajak Rindu untuk Kota-ku
Tempo dulu digelari kota debu
namun terletak di wajah lautan
maka dinamakan pantai besar
Maumere nyiur melambai
Senyum debu dan pasir berpadu
dibakar terik sinar mentari
selalu dibelai angin sepoi
Maka dijuluki Maumere manis e
Hari ini berubah wajah
aneka bangunan menghiasi kota
dan pagar batu sepanjang pantai
Deru kendaraan semakin bising
berpacu dengan irama dentuman
dari musik aneka genre
Ditemani siraman alkohol lontar
dan aneka hidangan lokal
Ramainya pesta sepanjang waktu
Gunung dan lembah menari
di bawah sinar terik mentari
Warisan leluhur warna-warni
terus menjelma dalam kreasi
Zaman digital memacu inovasi
Perjuangan damba setiap pribadi
menenun makna merajut arti
Berpacu dalam roda hari
mengejar waktu terus berlari
Rindu pada kotaku
Maumere nyiur melambai
kutulis sajak lukisan sanubari
Kagum dan damba pada kotaku
Maumere manis e
kusenandungkan lagu irama kampung
Kenangkan aroma pangan lokal
buatan para Ibu terampil
Dan
saat terbawa irama mimpi
air mata basahi pipi
“Maumere, tanah lahirku
Aku ingin pulang kepadamu
Saksikan nyiur melambai manis e
Jumpai sanak keluarga menanti
seperti energi bara api
Saat nira lontar disuling
dan irama gong gendang ditabuh
dalam alunan musik kampung
Energi harapan anak generasi
Berlari menoreh makna arti”
foto ilustrasi : istimewa

