Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam politik, ada relasi kepentingan antara politisi dan rakyat. Namun, karena kapasitas politisi dan parpolnya lebih unggul, maka dialami adanya belum setara relasinya, apalagi soal distribusi manfaat dan jaminan hak.
Dalam rangka kemenangan meraih jabatan politik, berbagai cara dan strategi dilakukan. Termasuk melakukan doa keagamaan dan ritual adat budaya. Lalu, saya mencatat fenomena itu dalam sajak:
Tuhan Diserbu Doa Politik
Harum dupa ngepul mewangi
Nyala lilin kerlip bertaburan
Mantra doa terus didaraskan
Lagu pujian tetap berkumandang
Aneka sesajen dipersembahkan
Di tempat-tempat ritual
Di rumah-rumah ibadah
Di ruang para pendoa dan dukun
Di pertapaan para Rahib dan tabib
Semua hanya satu permohonan
dari para politisi dan pendukungnya
“Menang, menang, menang”
Ada yang menarik dan paradoks
kursi jabatan eksekutif hanya satu
kursi jabatan legislatif hanya satu
Tetapi diperebutkan puluhan orang
Dan
suara pemilih yang satu pun
diperebutkan puluhan orang
Semua calon legislatif dan eksekutif
dengan semangat sangat yakin
keluarkan tenaga dan biaya
Hanya dengan satu kata
“Memang, menang, menang”
Tuhan yang Maha Esa
duduk tersenyum dan kagum
Melihat harapan dan usaha
perjuangan tekad para politisi
dengan segala daya dan sarana
demi meraih kemenangan politik
Tuhan yang Maha Nama
disapa dalam aneka doa
disembah berbagai upacara ritual
dimuliakan ragam kepercayaan dan agama
dihormati berbagai adat budaya
Terus tersenyum dan Maha Melihat
pilihan dan keputusan
pribadi
baik para politisi maupun rakyat
Tuhan yang Maha Bijaksana
diserbu berbagai doa permohonan
Bahkan ada yang memaksa
bahwa harus dijawab dan menang
merebut kursi jabatan kekuasaan
Padahal
dengan jiwa dan raganya
dengan pikiran dan nurani jiwanya
Sungguh paham fakta politik
bahwa pasti ada kalah dan menang
Dan
Tuhan tak pantas diperintah
Apalagi dijadikan tim sukses
danย premanย politik
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

