Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Sudah lama saya belajar menulis, sejak SMP dan SMA untuk majalah dinding sekolah. Lalu, seterusnya mulai di media cetak dan sekarang di media online. Ada tulisan cerita, sajak, refleksi dan opini, sesuai kebutuhan dan kemampuanku.
Saat ini, ada banyak refleksi atas karya yang sudah hampir seribu judul. Menulis menjadi sebuah proses belajar yang tiada akhir, belajar menjadi diri sendiri dan belajar berbagi syukur terima kasih.
Berkenaan dengan Hari Buku Nasional, saya catat pengalaman menulis itu, dalam sajak:
Menulis Halaman Desah Nafas
Aku menulis dan terus berlari
menangkap huruf dan kata
menggores pada lembar nafas
Agar bisa hiasi jantung
terus berwarna merah darah
Berlari jumpai sesama saudara
Berkelana lintasi jiwa raga
dalam rahim misteri semesta
Aku menulis karena aku ada
Aku menulis maka aku menjadi
Aku menulis
pada mata sesama
pada rasa sanubari manusia
pada samudra dan angkasa
pada jejak telapak debu
pada wajah ruang waktu
Aku menulis maka aku ada
pada helai rambut semesta
Aku belajar merangkai kata
agar bisa nyanyikan makna
agar bisa mainkan nada
kalimat bait suka duka
Sepanjang jalan langkahku berkelana
dengan pena energi udara
Aku menulis jiwa raga
dari birunya samudra
dari luasnya hutan belantara
dari tubir lembah dan jurang
dari gunung yang menjulang
dari angin yang tetap berhembus
meniup langkah jejak nafas
Dan pikiran terus dihiasi
dengan warna-warni pelangi
antara fakta dan harapan
Lembaran tulisan bertambah
pada ruang dan waktu
yang terus memburu
Aku membaca kisah ceritaku
Aku mendaras sajak puisiku
Aku melihat semakin tebal karyaku
meski tidak semua kupahami
apa yang sedang terjadi
Antara matahari dan jejak kaki
Antara angkasa dan sanubari
Antara laut biru dan rambutku
Antara semesta dan jiwa ragaku
dalam bukuย desahย nafasku
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

