Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Peringatan Nasional akan kelahiran Pancasila. Pancasila sebagai Dasar Negara dan Ideologi Bangsa Indonesia. Proses perjuangan membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terus diupayakan. Nilai-nilai dalam Pancasila perlu diketahui, difahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh bangsa.
Sebagai generasi muda, saya coba mencatat harapan dan kerinduan akan Pancasila sebagai sumber energi pemersatu bangsa dan NKRI, dalam sajak:
Panca Sajak Milenial Pewaris NKRI
…
1.
Sajak Pertama: Agama Sirnakan Tuhan
Salam Indonesiaku!
Salam Pancasila!
Assalamualaikumโฆ Wa Rahmatullahi wa barakatu
Om Swastiastuโฆ
Namo Budhayaโฆ
Salam kebajikanโฆ
Syallom, Syallomโฆ
Ave, Aveโฆ
Indonesiaku โฆ
Kaya dengan aneka agama
Kaya berbagai macam kepercayaan
adat budaya warisan leluhur
Kaya upacara atas nama agama
Tetapiโฆ
Tuhan semakin sirna bahkan
Tuhan semakin tak berdaya di negeri ini
Entah mengapaโฆ.
Hanya para orangtua
Hanya para pendahulu
Hanya para pemuka dan tokoh
Hanya para cerdik pandai
Yang mampu menjawab kami
para generasi muda pewaris NKRIโฆ
2
Sajak Kedua: Yang Bathil dan Biadab
Ada slogan damba
Lahirnya keadilan dan pribadi beradab
Apakah rindu damba realistis
ataukah hanya slogan utopia?
Kutanya pada diriku
Apakah aku salah mendengar dan membaca?
Jika agama tanpa Tuhan
Jika kepercayaan tanpa Sang Hyang
Jika ritual tanpa spiritual
Jika manusia tanpa kewarasan
Jika insan tanpa nurani jiwa
Jika selera dan ego merajai pribadi
Jika uang, kuasa, dan kenikmatan jadi tujuan
Di mana akan tumbuh keadilan
Apakah ada adab, moralitas, dan iman?
Sangat mungkin tercipta
Kemanusiaan yang bathil dan biadab
Lalu,
kemana kiblat kami generasi pewaris NKRI?
3.
Sajak Ketiga: Boneka-Boneka Digital
Hanya aku,
engkau dan dia,
kamu dan mereka
Tidak ada lagi KITA
Hanya ada boneka-boneka
Pentingkah saling melengkapi?
Benarkan saling membutuhkan?
Ataukah
Hanya saling memanfaatkan
Dan
Hanya saling memangsa?
Apakah ini zaman edan?
Saatnya manusia tanpa nurani dan sanubari
Zamannya manusia tanpa hati dan jiwa
Untuk apa bicara tentang KITA?
Apa itu Persatuan Indonesia
Jika yang dibangun hanya badan
Jika jiwa hanya kata dalam lagu
Maka
Apakah bisa tumbuh
Persatuan Indonesia
Dari tanaman:
material fisik,
Dari korupsi dan tipu muslihat,
Dari kemunafikan dan sumpah palsu atas nama Tuhan dan agama?
Adakah persatuan di tengah belantara
Iri dengki dendam
Permusuhan dan perang saudara
Dimana KITA?
Perlukah PERSATUAN
di negeri tipu-tipu
di negara kata-kata
Yang kaya agama tanpa Tuhan?
Yang kaya bangunan, tanpa nurani dan jiwa
4.
Sajak Keempat: Puing-Puing Hikmat, Kebijaksanaan dan Kedaulatan Rakyat
Menang, menang dan menangโฆ
Menang takhta kekuasaan
Menang uang dan harta
Menang gengsi dan kenikmatan
Atas nama agama dan Tuhan
dengan sumpah jabatan dan aturan
Demi bangsa dan negara
Demi kepentingan rakyat
Demi kejayaan NKRI
Kerakyatanโฆ
Hikmat kebijaksanaanโฆ
Permusyawaratan
Perwakilanโฆ.
Apakah masih ada makna?
Ini kata-kata penuh tanya
bagi putra putri bangsa
Ini madu atau racun
bagi generasi pewaris negeri
Kedaulatan rakyat
sudah dibawa pergi para wakil rakyat
Mereka sudah jadi pekerja partai
Mereka sudah digelar petugas parpol
Suara rakyat sudah dibeli
Apalagi
Wakil rakyat lebih takut pimpinan parpol
daripada sumpah jabatan
Atas nama Tuhan dan agama
Laluโฆ
Kami generasi pewaris NKRI
Hanya berlari dengan tanya
Di antara serpihan makna
hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan
5.
Sajak Kelima: Negeri Tipu-tipu, Negara Kata-kata
Kudengar sajak kawan-kawanku
Bicara tentang tanyaโฆ
Cerita tentang faktaโฆ.
Pancasila,
antara kata dan fakta
Indonesia
antara kata dan tipu
Ke manakah NKRI
Jika
Tanpa Tuhan
Tanpa perikemanusiaan
Tanpa harkat martabat
Tanpa jiwa dan raga
Tanpa perdamaian dan patriotisme
Tanpa kejujuran dan hukum yang adil
Tanpa kesejahteraan?
Ini salah siapa,
Ini dosa siapa?
Apakah salah orangtua yang mengandung dan melahirkan anak generasi bangsa ini?
Apakah salah dosa para pahlawan yang memerdekakan negeri ini dan melahirkan NKRI?
Apakah dosa pemimpin adat dan agama?
Apakah salah dosa pejabat negara dan politisi?
Apakah keberhasilan pebisnis dan pemodal bersama koruptor dan parpol?
Apakah karena Ideologi Pancasila menjadi tonggak kayu, pagar dan sampah?
Jangan-jangan,
ini salah dan dosanya Tuhan
Karena tidak berdaya
Karena tidak berkuasa
Karena miskin merana
Di zaman digital milenial
yang mampu ciptakan kecerdasan dengan IT
dan bisa dijadikan Tuhan
serta menggantikan Pancasila
Demi kemakmuran bangsa Indonesia
Tanpa kesadaran, tanpa nurani dan jiwa
Wujudkan segera INDONESIA RAYA
MERDEKAย –ย MERDEKA
…
Foto ilustrasi: Istimewa

