Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Setiap pribadi mempunyai cara sendiri untuk mengenang waktu lahirnya. Sering disebut perayaan ulang tahun, dengan berbagai bentuk acara, makanan dan doa syukur. Namun, ada yang tidak melakukannya, bahkan ada yang lupa hari lahirnya, karena berbagai alasan.
Tanggal 1 Juni kemarin, saya juga mengenang hari lahir, bertepatan juga dengan peringatan hari lahir Pancasila. Yang bisa kubuat adalah doa syukur pribadi dan menuliskannya dalam sebuah sajak:
Menghitung Detak Detik Waktu
Sudah jutaan detak detik
bergulat menahan laju waktu
yang pertemukan luas buana
Merangkul samudera dan angkasa
dalam kata dan angka
Dan
aku terus menghitung jemari
pada bentangan usia umur
yang tak pernah mampu ditahan
oleh nafas dan darah
oleh damba jiwa raga
Meskipun
“Aku ingin hidup 1000 tahun”
Membaca tulisan di lembaran umur
tentang cerita suka duka
tentang kisah sukses gagal
tentang damba dan pesona
tentang fakta dan harapan
tentang senyum dan air mata
tentang aku dan sesama saudara
tentang debu dan matahari
Maka
kusadari fakta dan misteri
bahwa angka dan kata
tidak bisa menjawab tanya
“Siapakah aku
dan mengapa ada di bumi”
Pada saat ulang tahun ini
Aku duduk menelisik angka umur
Aku menghitung detak detik waktu
Aku terus berubah dan menjadi
Kuberkaca pandangi diri pribadi
Ternyata
Aku bukan siapa-siapa
Aku bukan apa-apa
Di tengah sesama saudara
Di tengah alam semesta raya
Jika
tak ada arti dan makna
dalam setiap desah nafas
dalam aliran desir darah
Tanpa doa dan amal karya
mengiringi detak detik waktu
Umur dan usia setiap pribadi
adalah sinar cahaya matahari
adalah angin yang berhembus
adalah lagu gelombang samudra
adalah tarian ombak dan pasir pantai
adalah diam rimba belantara rambutku
Adalah tanya dan jawaban menyatu
Dalam tarian pelangi
Ilahi
Sang Penari Maha Misteri
Perayaan umur bisa berarti
Meruwat usia akan bermakna
Ketikaโฆ
Bias sinar syukur ada di jiwa
Kembang terima kasih mekar di sanubari
Mata kesadaran bersemi di pikiran
Simfoni rasa mengalun merdu
Iringi raga bersujud memeluk debu tanah
“Aku ada dan terus menjadi
Aku cuma setitik debu
Aku hanya sebutir pasir
Datang, ada dan pulang
dalam energi cinta lestari
Aku berusaha menjadi berkat
Aku bisa memberiย danย berbagi”
..
Foto ilustrasi: Istimewa

