Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Mensyukuri waktu dalam hidup, mengenang momen istimewa, termasuk hari kelahiran adalah bentuk nyata upaya memberi makna bagi nafas. Hidup itu paling jelas disadari dengan adanya nafas, terus berada dan menjadi dalam ruang dan waktu.
Cara memberi makna atas hidup, khusunya waktu itu bermacam-macam. Juga mengenang waktu lahir pun dilakukan dengan aneka cara oleh setiap pribadi. Ada yang membuat luar biasa istimewa, ada yang menghargai apa adanya, ada yang biasa saja, bahkan ada yang tidak peduli dan biarkan berlalu begitu saja.
Ketika seorang penyair perempuan yang berulang tahun, sebagai pegiat literasi, dengan aneka karyanya, dan teristimewa kepeduliannya menghimpun kebersamaan para penyair melakukan “menulis dari rumah”, saya ikut bersyukur. Bagi Bu Jul yang berultah 28-05-23, saya merangkai sebuah kado kecil dalam sajak:
Menulis Syukur Tak Bertepi
Roda-roda waktu
lewati titian bambu
Sedetik rehat pada tanjak buku
hiasi ruas-ruas kalbu
dengan ayat-ayat baru
“Syukur sembah matur nuhun”
Seekor merpati putih
membawa senyum matahari
sematkan nyala lidah api
terangi langkah terus berlari
membagi makna dengan kasih
berderet-deret ayat kata
Terpatri di nurani jiwa sesama
Seorang Srikandi berlari
Merajut karya sejak pagi
menenun doa sepanjang hari
Merangkai hati insani
menulis nafas di lembar samudra
mencatat suka duka di halaman angkasa
agar waktu berbunga-bunga
dipenuhi aroma cinta
Sang “penyair kereta”
bersujud di pantai samudra
Saksikan ombak menghempas pasti
tak pernah berhenti
tak kunjung usai
Menulis cahaya bintang-bintang
dengan pena gelombang cinta
pada halaman damba sesama
abadikan warna pelangi kata
…
Foto ilustrasi: Istimewa

