Mengapa orang berbuat jahat? Bahkan bisa jahat sekali?
“Penggarap-penggarap itu berkata satu sama lain: “Dialah ahli warisnya. Mari kita bunuh dia, maka warisan ini akan menjadi milik kita.”
(Markus 12: 7).
Sebuah kisah kejahatan yang banyak terjadi di sekitar kita. Ada apa sebenarnya?
Apakah kita dididik untuk jadi orang yang jahat? Berarti yang mendidik itu adalah sangat jahat. Jika ada orang yang mengajak yang lain berbuat jahat, itu berarti otak dan hatinya itu tidak benar.
Sekali lagi, pertanyaan: “Mengapa orang berbuat jahat?”
Bisa jadi jawabannya, sakit hati. Hal ini sering terjadi, karena iri hati, benci, dan dendam, sehingga ingin ganti menyakiti, membalas, dan melakukan kejahatan lainnya.
Bisa jadi pula, karena indroktrinasi. Berarti ada hal yang salah dengan yang diajarkan itu.
Karena moral yang tidak benar, berarti memang orangnya sudah tidak bermoral.
Karena kepentingan, berarti sudah tidak benar.
Karena kekuasaan, berarti sudah salah tujuannya.
Karena uang, berarti sudah lupa daratan.
Mengapa orang bisa berbuat jahat? Apakah tidak bisa mengendalikan diri atau ia dikendalikan oleh orang lain? Atau sudah dijadikan sebagai kebenaran, bahwa berbuat jahat itu sah.
Lalu, mau dibawa ke mana kebaikan itu? Apakah orang yang biasa berbuat jahat itu bisa jadi baik kembali?
Ada yang mendoakan mereka, menasihati, menyadarkan, atau bahkan menghukum mereka. Tujuannya satu, supaya mereka sadar dan insaf untuk kembali ke jalan yang benar, dan berbuat baik.
Jika kita diminta menyadarkan mereka yang suka berbuat jahat itu, apa yang hendak dilakukan? Atau bahayanya, jika kita terpengaruh untuk berbuat jahat.
Sikapi dengan hati-hati, karena kejahatan itu seperti virus yang menular dan mematikan: dalam berkata-kata dan tindakan.
Mohon penyertaan Tuhan dan fokus agar kita teguh dalam iman untuk hidup jujur, baik, dan benar di hadapan-Nya.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

