“Jika hidup ini ibarat membayar hutang kepada Tuhan, kita harus disiplin mencicilnya agar apa pun yang dikredit itu tidak gagal bayar dan disita.” -Mas Redjo
…
Maaf, jika kita tidak sependapat!
Analogi itu saya terapkan sebagai pengingat agar saya sadar diri dan bertanggung jawab atas hidup ini. Karena dipercaya, saya tidak ingin mengecewakan-Nya.
Ketika kredit barang, kita harus mencicil, melunasinya agar barang itu mutlak jadi milik kita. Jika kita terlambat dan macet mencicilnya berarti barang itu harus diikhlaskan untuk ditarik kembali dan disita.
Begitu pula dengan hidup ini. Benar, hidup ini anugerah Tuhan yang luar biasa. Tidak seharusnya anugerah dan kesempatan itu kita sia-siakan dan disalahgunakan, tapi untuk kita kelola dengan bijak sebagai nilai pertanggungjawaban kita kepada-Nya.
Saya membayangkan, jika udara, air, sinar matahari, dan seterusnya itu dengan cara membeli. Berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari? Sungguh, bahkan sampai mati kita tidak sanggup untuk melunasi semua hutang itu.
Hidup saya yang adalah anugerah Tuhan diibaratkan berhutang yang harus dipertanggungjawabkan dan dilunasinya!
Didasari, karena hidup ini adalah untuk mencicil dan membayar hutang, saya tidak mau bermain-main dengan hidup saya sendiri.
Saya sadar sesadarnya, dengan cara berbuat baik, beramal kasih, dan berderma pada mereka yang lemah, miskin, serta terpinggirkan itu saya mencicil untuk melunasi hutang saya kepada Allah.
Sampai kapan?
Hingga tarikan nafas terakhir. Hidup untuk bermurah hati pada sesama. Karena kita tidak tahu hari dan waktunya kembali kepada Tuhan.
Selalu bersiap-sedia, ikhlas, dan tuntas.
…
Mas Redjo

