“Jangan menghakimi orang lain agar kita tidak dihakimi diri sendiri.” –Mas Redjo
Karena itu saya tidak reaktif, kecuali tersenyum, ketika dituduh tidak mau mengingatkan teman. Sehingga ia ditipu oleh teman yang sama.
Bagi saya pribadi membuka aib orang lain itu tidak hanya pamali, tapi membuka aib sendiri. Faktanya, kita juga tidak mau, bahkan marah, jika aib kita diumbar, apalagi diviralkan.
“Maaf, jika dianggap salah, karena tidak mengingatkan. Meskipun kau menanyakan kelakuan A, karena mau bekerja sama. Saya sekadar ‘warning’ untuk berhati-hati. Tapi keputusan itu ada padamu,” tegas saya.
Jujur, sekalipun saya memerisai diri untuk ‘eling lan waspada’ agar tidak mudah terpedaya oleh orang lain. Tapi faktanya, saya tergelincir dan jatuh juga.
Sadar, karena selalu berpikir positif dan berprasangka baik pada orang lain, hal itu membuat saya mudah jatuh kasihan sehingga melupakan kesalahan orang itu.
Bagaimana tidak. Meskipun saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk menjaga jarak hubungan agar tidak melakukan kesalahan yang sama, apalagi diperdaya olehnya.
Untuk menjalin hubungan bisnis lagi dengan teman yang pernah berbuat curang itu saya sudahi dan stop. Begitu pula, jika dia hendak minta tolong dengan mengatas-namakan orang lain, maka saya berusaha untuk kroscek lebih dulu. Untuk lebih berhati-hati agar tidak dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri.
Apakah saya takut diperdaya, tidak peduli, dan tidak ikhlas?
Jawabannya adalah, karena saya peduli dan mengasihinya. Saya ingin ia tidak mengandalkan dan bergantung pada orang lain, tapi untuk jadi pejuang yang tangguh, mandiri, dan mengandalkan Tuhan.
Sejatinya, kita dituntut untuk peduli, berbela rasa, dan berbagi pada sesama sebagai nilai pertanggung-jawaban hidup kita pada Tuhan Sang Pencipta!
Hidup untuk saling mengasihi, dan bahagia!
Mas Redjo

