“Serapi-rapinya orang menyembunyikan dan menyimpan kebohongan, cepat atau lambat pasti terungkap.” -Mas Redjo
Seorang Bapak curhat pada saya tentang anak bontotnya yang sulit diarahkan, padahal yang diminta adalah bersikap terbuka dan jujur. Hingga akhirnya kebohongan itu tanpa sengaja terkuak lewat IG.
“Ternyata AI, anak saya yang selalu mengaku kurang uang itu pergi ke luar kota ditemani pacarnya. Hal itu yang membuat istri saya terpukul,” kata Bapak MD masgul.
Sejak semula saya ragu mendengar cerita tentang AI, anak Bapak MD yang tugas luar kota, tapi anehnya selalu minta tambahan uang saku pada orangtuanya. Faktanya, tugas itu ditanggung oleh perusahaan.
Ibunya tidak setuju dengan gadis yang jadi pacar AI. Karena ia lebih condong dengan anak temannya yang cantik anggun itu.
“Sekarang zamannya beda, tidak bisa seperti dulu. Orangtua itu sekadar mengenalkan. Jika anak-anak tidak cocok, orangtua tidak bisa memaksa. Mereka yang menjalani.”
“Iya, sih. Seharusnya AI terbuka dan jujur pada Ibunya. Tidak sembunyi seperti itu.”
“Ya, Ibu Bapak ngomong baik-baik dengan AI. Maaf, kalau saya, lho… Orangtua itu wajib mengarahkan, mengingatkan, dan mendoakan yang terbaik untuk anak. Bagi saya, soal jodoh itu yang memutuskan anak. Orangtua merestui, tapi yang penting mereka itu seiman.”
Bapak MD diam, menarik nafas panjang, lalu minta pamit.
“Bawa dalam doa, Pak. Percaya dan imani, Tuhan selalu memberi yang terbaik.”
Mas Redjo

