“Siapa ingin diapresiasi orang lain, hendaknya terlebih dulu memberikan yang terbaik dari hidupnya sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ternyata untuk diapresiasi itu kita tidak harus melakukan hal-hal yang hebat dan menakjubkan. Kita bisa melakukan hal kecil dan sederhana, tapi dengan cinta yang besar. Untuk komitmen dan kontinyu melakukan hal itu. Misalnya lewat “jalan sunyi” seperti yang dipilih Ibu Theresa dari Calcuta.
Ketika menekuni bisnis, saya ingin memberikan yang terbaik demi kepuasan pelanggan. Caranya, memberikan barang berkualitas, pelayanan prima, dan pengiriman tepat waktu. Hasilnya pun luar biasa.
Ketika menekuni tulis menulis, saya dihadapkan pada kegamangan untuk memilih. Sebagai profesi, hiburan, atau sebagai kesaksian untuk memanusiawikan sesama dan memuliakan Allah.
Saya berdoa, lalu bicara dengan nurani sendiri. Hidup berefleksi dan berkontemplasi dalam keseharian untuk melewati jalan sunyi. Hal itu tidak mudah untuk diputuskan. Tapi jadi mudah, ketika atas anugerah Allah, saya dilatih untuk berani meninggalkan ego sendiri.
Usia saya tidak muda lagi. Anak-anak sudah besar dan mandiri. Lalu saya mau mencari apalagi, kecuali mengisi hidup ini untuk pemaknaan jiwa.
Secara pelan, tapi pasti saya mau melepaskan semua yang dimiliki. Tepatnya, yang diberi pinjam Allah sebagai hak guna pakai. Dari tiada kembali ke tiada, dan ikhlas.
Apakah berat dan sulit?
Tidak! Ketika kita mau memaknai hidup ini, fokus pada tujuan, dan mohon penyertaan Allah. Sehingga hal yang berat dan sulit itu jadi ringan dan mudah.
Selalu membiasakan diri menulis tidak untuk menonjolkan diri, tapi untuk pemaknaan jiwa.
Menulis tidak untuk menyenangkan pembaca atau diri sendiri, tapi sebagai ungkapan pujian dan syukur atas anugerah Allah.
Menulis tidak untuk berpolemik, nyinyir, saling menghujat, atau menebar kebencian. Tapi menulis untuk mencerahkan jiwa, terutama pada diri sendiri.
Menulis tidak sekadar menulis, tapi menulis dengan hati, karena ingin memotivasi dan memberi inspirasi, semoga diminati.
Selalu mendisiplinkan diri untuk menulis mencapai target, karena saya mempunyai tujuan: iman, harapan, dan kasih. Semua itu saya wujudkan dengan setia menulis hingga akhir.
Menulis sebagai ungkapan pujian dan syukur untuk memuliakan Allah.
…
Mas Redjo

