‘Lima Jari’ adalah simbol kerja nyata. Di hadapan Tuhan, bukan seberapa besar tangan kita, melainkan seberapa banyak kasih yang disalurkan melalui jemari tersebut untuk merangkul yang lemah dan melayani sesama.
Ibu Jari (Jempol):
Mengajarkan kita untuk selalu melihat kebaikan. Seperti jempol yang memberikan pujian, hidup kita pun dipanggil untuk mengangkat martabat sesama dan memuliakan nama Tuhan dalam setiap langkah, hari demi hari, saat demi saat
Jari Telunjuk:
Digunakan untuk menunjuk atau memberi petunjuk. Dalam Puasa, kedua hal ini bermakna penyadaran diri atas kesalahan (bertobat) sekaligus jadi pengingat bagi sesama untuk kembali ke jalan yang benar dan peduli pada keadilan sosial.
Jika kita tahu, bahwa teman itu keliru dan kita tidak memberikan haknya untuk diluruskan, maka kita menyembunyikan kebenaran itu untuk diri sendiri dan kebenaran untuk teman kita. Maka Jari Telunjuk kita kehilangan makna arahan dan penyadaran (metanoia).
Jari Tengah:
Sebagai jari yang paling tinggi ini melambangkan niat luhur yang memberi pangayoman. Sebagai bentuk pemberian diri (pantang dan puasa) selayaknya dilakukan secara total, bukan sekadar formalitas, demi membantu mereka yang berkekurangan, melainkan pengorbanan diri demi pengayoman sesama.
Intinya Jari Tengah adalah simbol rendah hati. Di saat kita diberi kelebihan, justru di situlah kita dipanggil untuk melindungi dan melayani mereka yang ‘lebih pendek’ atau lemah di sekitar kita. Tantangan selama masa puasa ini adalah ‘ora adigang adigung adiguno’, tapi makin menyatukan diri dengan ‘kawulo alit’.
Jari Manis:
Mengajarkan kita, bahwa kesetiaan itu bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling setia melekat. Jari Manis ini simbol pengabdian yang melampaui ego; sebuah janji suci yang tidak pernah melepaskan, baik kepada pasangan yang mendampingi, sesama yang menguatkan, maupun kepada Allah yang jadi pusat dari segala cinta. Di jari inilah, kerendahan hati manusia bertemu dengan keabadian janji Sang Pencipta.
Jari Manis itu juga bukan lagi sekadar anggota tubuh, melainkan sebuah pengingat spiritual tentang kerendahan hati dan kesetiaan tanpa syarat, dengan pasangan, keluarga, teman, dan terutama Tuhan.
Jari kelingking:
Sering kali dianggap remeh, karena ukurannya yang paling kecil, tapi ia menyimpan filosofi mendalam tentang kekuatan dalam kesederhanaan.
Dia tidak pernah protes atas posisinya yang di pinggir atau ukurannya yang kecil. Ia taat pada fungsinya untuk melengkapi. Dalam hidup, ketaatan sejati akan tetap melakukan bagian kita dengan setia, meskipun peran tersebut dianggap remeh oleh dunia. Ia melakukan ‘kehendak’ sang tangan tanpa menuntut pengakuan.
Kelingking adalah pengingat yang luar biasa, bahwa dalam hidup ini, kita tidak perlu jadi besar atau dominan untuk berarti. Cukup dengan jadi taat, tulus, dan setia pada esensi diri, kita sudah melakukan bagian yang paling utama.
*APP (Aksi Puasa Pembangunan)
Berkah Dalem.
Jlitheng

