| Red-Joss.com | Ada orang yang pada saat bercerita atau berbicara, baik dalam pertemuan resmi ataupun tidak, dia nyaris tak pernah melebih-lebihkan segala sesuatu maupun mencari sebuah validasi atau penerimaan / pengakuan dari orang lain. Istilahnya ‘shining tanpa bluffing’.
Bagaimana kita bisa tahu, bahwa seseorang atau kita sendiri mencari validasi dari orang lain?
Cukup lama saya menjalani peran sebagai seorang ‘recruiter’. Menyeleksi kandidat yang cocok untuk posisi atau jabatan tertentu untuk bekerja dalam perusahaan.
Ada dua macam sikap atau ‘attitude’ yang nampak:
(1) ‘shining’ tanpa ‘bluffing’ dan sebaliknya
(2) ‘bluffing’ agar ‘shining’. Perilakunya akan nampak dalam caranya bicara atau CV-nya.
Begitulah perjalanan hidup kita di dunia ini. Kita sedang berbaris menanti saat-saat ‘interview’ dengan Recruiter Ilahi. Kita membawa CV kita. Apakah kita termasuk kandidat yang ‘bluffing’ agar ‘shining’ atau ‘shining’ nir ‘bluffing’ alias apa adanya? Recruiter Abadi sudah tahu siapa yang alan diseleksi masuk company surgawi. Tak ada gunanya ‘bluffing’.
Bagaimana caranya kita bisa tetap ‘shining’ (terang dan bersinar) tanpa perlu ‘bluffing’
(melebih-lebihkan atau menyombong) tentang jabatan dan prestasi dalam bekerja atau melayani yang pernah kita lakukan? ‘Bluffing’ hanya berlaku di dunia, tapi tidak dalam seleksi hidup abadi.
“Bagi Bapak pasti mudah,” sela seorang peserta pertemuan.
“Tidak juga. Saya jatuh-bangun melawan godaan ‘bluffing’ ini. Sampai usia senjaku ini belum juga berhasil,” jawabku. Apakah saya akan lolos seleksi?
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

