Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sesungguhnya, siapakah Anda di antara sesamamu?
(Didaktika Hidup Sadar)
Sudah merupakan sebuah bawaan lahir, bahwa manusia itu adalah ‘makhluk yang sungguh unik.’ Ia adalah sesosok pribadi yang sungguh spesial di mata sesamanya. Sungguh, tidak ada dua orang manusia yang sama.
Apa itu “Otrovert?”
Ialah sesosok individu yang tidak nyaman dengan suatu tuntutan kebersamaan dalam suatu kelompok, namun ia tetap mampu menjalin kehangatan dalam relasi secara personal. Demikianlah pandangan dari psikiatri Kaminski.
Seorang anak kecil bernama Rami Kaminski duduk bersama dengan teman-temannya yang penuh semangat untuk mengucapkan ikrar pramuka. Namun, saat teman-temannya tampak berapi-api Rami kecil tidak merasakan getaran yang sama. Dalam tulisan refleksinya di New Scientist, Kaminski mengatakan, “Saya tidak merasakan apa-apa.” Demikian isi paragraf pertama tulisan Ellen Rachman & Emilia Jakob, konsultan ahli SDM, dalam kolom Karier, harian Kompas, Sabtu, (4/10/2025), berjudul, “Pribadi Otrovert.”
Dalam konteks spesial ini, Kaminski berpendapat, bahwa pribadi otrovert ‘tidak mudah larut secara, emosional dengan kelompoknya. Ia justru akan tampil lebih leluasa, jernih, serta orisinal dalam berpikir.
Pernah Dicap sebagai Pribadi “Troublemaker”
Bahkan kehadiran pribadi yang sangat unik ini, pernah dicap sebagai si ‘troublemaker’. Ketika istilah ‘otrovert’ ditemukan tahun 2023, maka Jennifer Chase Finch seorang konselor dan penulis baru merasakan sebuah ‘aha’, ketika misteri ini dapat diungkapkan.
Mengapa Jennifer Chase sering dicap sebagai si troublemaker? Karena ia adalah sesosok pribadi suka menentang otoritas, mengkritisi kemunafikan, dan mempertanyakan aturan yang dianggap orang lain sebagai hal lumrah. Demikian Eileen & Emilia.
Antara: Introvert, Ekstrovert, dan Otrovert
Bukankah selama ini dunia sudah sangat karib dengan dikotomi klasik: yakni introvert dan ekstrovert? Juga lewat psikolog Carl Jung kedua istilah klasik itu sangat tenar di telinga kita. Si pribadi introvert dimaknakan sebagai sosok pribadi yang berorientasi ke dalam, sedangkan ekstrovert sebagai sosok pribadi yang berorientasi ke luar.
Spesialnya si Unik Otrovert
Si unik otrover justru tidak condong ke introvert atau ke ekstrovert. Si otrovert tidak seekstrem keduanya, ia bahkan bisa menjalin relasi sosial dengan luwes dan tampak menikmatinya, namun ia tidak merasa terikat dengan kelompok itu.
Sejatinya bahwa sosok pribadi ber’otrovert’ ini, justru tampil lebih orisinal, mampu berempati, serta mandiri secara emosional. Namun di sisi lain, ia juga memiliki beban psikologis, yakni sebagai pribadi yang kesepian, agak berpura-pura dalam bersikap, dan bahkan bisa ke taraf depresi.
Lebih konyol lagi, si otrovert sering dipandang sebagai pribadi yang tidak loyal atau pun bahkan angkuh, mengapa? Hal ini terjadi, karena ia sangat enggan untuk terjun langsung dalam kegiatan kelompoknya.
Refleksi
Sebagai sebuah refleksi akhir, semoga kita tetap menghargai setiap keunikan yang terpancar dari sesosok pribadi. Karena bukankah keunikan pun adalah sebuah keindahan?
Laksana indahnya sebuah taman bunga yang ditumbuhi dan dihiasi oleh aneka warna-warni dari berbagai jenis bunga, maka demikian pun uniknya kita manusia,
si ajaib yang tak ada duanya di jagad hidup ini.
“Saya unik dan Anda pun unik, maka sempurnalah kita, justru karena uniknya setiap kita!
Selamat datang si Otrovert!
Kediri, 6 Oktober 2025

