Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Hidup serta kehidupan ini sungguh bersifat sementara. Semua akan berlalu dan berakhir. Apa pun, semua itu akan sirna.
Kisah kehidupan anak manusia, dapat dianalogikan, laksana setangkai bunga, yang segar mewangi di kala pagi dan akan melayu di rembang petang.
Kisah kehidupan ini, laksana orang numpang ‘ngaso’, karena sesaat kemudian dia pun akan meneruskan ziarahnya.
Bahkan Tuhan berkata, “Batas umur manusia 70, atau 80 tahun, jika kuat. Hampir seluruhnya penuh susah dan derita.”
Sesungguhnya, “Apa yang tersisa, dan akan menetap kekal?” Saya pun teringat akan diktum agung sang Heraclitus, ‘Panta Rhei’, bahwa segala sesuatu akan mengalir berubah. Tidak ada sesuatu yang akan tinggal tetap.
Jadi, sesungguhnya, apa yang tersisa di jagad hidup ini? Yang tersisa hanyalah sabda serta kehendak Sang Tuhan. Bahkan, langit dan bumi pun akan berlalu dan lenyap.
Mungkin saja, kelak kita hanyalah sebuah nama, pun sekepal tengkorak yang masih akan dikenang.
Maka, belajarlah selalu tentang misteri raibnya kisah kehidupan ini!
Kediri, 22 Juli 2023

