Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pikiran manusialah yang terdasyat di atas bumi ini, karena ia pun sanggup mengubah segala-galanya.”
(Didaktika Misteri Hidup)
Yang Terbesar di Dunia
Ada hal yang sangat mengejutkan saya di saat sedang bertandang di rumah sahabat lama. Kejadian apakah itu? Kata Putri dari sahabat saya, saat ditanya oleh Gurunya, “Apakah hal yang paling besar di atas bumi ini?”
“Ayah saya,” kata seorang anak tentara.
“Seekor gajah,” kata seorang bocah yang kemarin sempat berkunjung ke kebun binatang.
“Gunung,” kata seorang anak dari sebuah desa.
Apa kata Putri dari teman saya itu? Inilah jawabannya yang sungguh mengejutkan, “Pikiran kita.” Jawaban nan polos itu ternyata sangat meyakinkan Gurunya.
Seisi kelas pun terdiam seketika. Sang Guru tidak menduga, bahwa akan ada jawaban yang semendasar dan sangat filosofis ini.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
‘Isi pikiran’ Anda dan saya, ternyata jauh lebih hebat, besar, dan dasyat, jika dibandingkan dengan ‘tubuh besar seorang manusia, atau besarnya serokor gajah, dan bahkan besarnya gunung raksasa.’
Pikiran manusia itu sanggup melampaui semua yang dapat dijangkau oleh mata dan telinga kita. Bahkan lewat pikiran, Anda dapat menebak yang sudah terjadi dan bahkan apa yang bakal terjadi?
Dalam konteks ini, bukankah segala sesuatu dapat Anda ketahui lewat jangkauan pikiran Anda? Dia pun mampu memuat segalanya!
Pikiran dan Filosofinya
Secara filosofis, pikiran manusia adlah hal yang terbesar di atas bumi ini! Demikian alasannya!
- Bukankah pikiran manusia itu adalah sumber asal dari segala sesuatu? Pikiranlah yang menciptakan sebuah ide atau gagasan besar dan agung. Lewat pikiran juga manusia itu mampu menghadirkan sebuah konsep dan realitas di atas seluruh kenyataan hidup ini. Bukankah seluruh realitas ini: seni, budaya, ekonomi, teknologi adalah hasil dari pikiran manusia?
- Bukankah pikiran manusia pun sanggup mengubah dunia ini? Bukankah lewat kekuatan sebuah pikiran, maka dapat memengaruhi tindakan dan keputusan manusia? Kebijaksanaan hidup pun lahir dari rahim pikiran manusia. Konsep kesetaraan, keadilan, belas kasih, dan cinta pun lahir dari isi pikiran manusia.
- Aspek kebebasan hidup itu bersumber juga dari isi pikiran manusia. Maka, lahirlah prinsip hidup: manusia bebas untuk memilih, bebas untuk bersikap, dan bebas pula untuk membuat jarak.
Refleksi
Jadi, jika tanpa ada pikiran, maka kita ini hanyalah ibarat sebuah boneka atau seperangkat robot.
“Cogito, Ergo Sum”
“Aku Berpikir, Maka, Aku Ada”
(Renatus Descartes)
Kediri, 30 Maret 2026

