Mark. 1: 40-45
“Zaman ini dengan kecanggihan teknologi media sosial selalu membuka ruang bagi semua orang untuk memilih; Entah mau menyebarkan kebaikan, keburukan/aib sesama, menebarkan kebenaran atau hoaks. Intinya berhati-hatilah, karena ketidakmampuan untuk mengontrol emosi bisa membuat seseorang memiliki jari yang lebih cepat daripada otak.”
Si kusta dalam Injil hari ini memberikan contoh yang baik, bagaimana caranya menyebarkan dan menebarkan berita baik tentang sesama. Dikisahkan: “Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana” (ayat 45).
Pelajaran penting bagi kita adalah:
- 1) Selalu ada kesadaran untuk kebenaran sebuah cerita, berita atau kejadian sebelum memutuskan untuk membagi atau menceritakan kepada orang lain;
- 2) Jagalah martabat dan nama baik orang lain, ketika mereka bersalah, terpuruk, bahkan berdosa sekalipun. Jangan jadi ‘loudspeaker’ untuk memperbesar bunyi keburukan sesama, sehingga didengar jelas oleh orang lain;
- 3) Jadilah orang pertama yang menyebarkan kebaikan sesamamu kepada orang lain, di mana pun engkau berada dan ke mana pun engkau pergi.
Ingatlah, bahwa semakin engkau jadi corong keburukan sesama bagi orang lain, maka dunia akan mengenal siapakah pribadimu yang sesungguhnya.
…
Monsignor RD Inno Ngutra

