| Red-Joss.com | Tidak berarti kurang percaya diri, tapi membiasakan bertanya lebih dulu pada diri sendiri adalah baik. Langkah maju untuk melihat jelas persoalan dan memahaminya agar kita bertindak benar dan bijaksana.
Ketika ditanya teman atau sahabat, “Apa yang harus aku lakukan?”
Langkah utama dan pertama kita adalah membuka hati agar kita jeli untuk memahami persoalan teman itu. Caranya, kita memposisikan diri sebagai penanya yang mengalami sendiri.
Memposisikan diri sebagai penanya agar kita mampu berpikir jernih, tanpa tendensi untuk menyalahkan dan menghakimi orang lain atau diri sendiri. Tapi agar kita dapat berpikir positif, berprasangka baik, dan rendah hati.
Dengan mengedepankan semangat rendah hati, kita tidak baperan dan sensi yang memperkeruh keadaan dan menjauhkan persaudaraan.
“Tapi sikap menantu perempuan dan anak saya berubah drastis,” keluh Bapak BK yang saya ajak ngupi pagi di gazebo, setelah kami berjalan kaki mengelilingi komplek.
Menurut Bapak BK dan orangtua lainnya, rumah orangtua itu juga rumah anak. Tapi rumah anak itu milik anak dan keluarganya. Jika orangtua tinggal di rumah anak berarti menumpang, dan orangtua harus ikuti peraturan keluarga anak.
“Sejak istri meninggal, mereka mau menemani. Tapi ternyata cucu nakal sekali, dan sama orangtuanya dibiarkan. Rumah jadi berantakan dan banyak barang yang pecah,” keluhnya.
Saya diam, tidak mengomentari. Tapi mencoba untuk memposisikan diri dan membayangkan hal itu.
Anak kecil nakal itu biasa. Miliki sifat keingintahuan yang besar itu juga wajar, asal mereka diarahkan ke hal positif dan baik.
“Ya, jangan dimasukin di hati, Pak. Kita mesti sabar. Namanya anak. Asal mainnya tidak membahayakan itu ndak apa. Sesungguhnya saya juga numpang anak, meski ini rumah keluarga. Kita mesti sabar, mengalah, dan ngemong anak lagi. Jika dimasukkan di hati, kita capai sendiri, nyesek, dan stres.”
“Saya berpikir positif dan bersyukur. Anak, menantu, dan cucu mau menemani itu anugerah luar biasa. Jika tinggal sendirian itu ndak ada enaknya dan yang ‘ngopeni’. Kalau dipikir serius, ya, kita stres sendiri. Lebih baik disyukuri dan dinikmati agar kita hepi. Kita harus berbesar hati. Apalagi, maaf Pak, kita tinggal menunggu waktu.”
Bapak BK diam. Dia tampak kuyu, lelah, dan tua. Padahal usianya jauh lebih muda dibandingkan saya.
“Ayo, Pak. Sambil dicicipi singkong rebusnya. Kemarin kami panen di kebun sendiri.”
“Saya akan mencoba saran Bapak,” kata Bapak BK, ketika pamit. Saya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahunya.
“Besok pagi saya samperin Bapak, lalu pulangnya saya mampir ke rumah ya….”
“Baik. Terima kasih,” senyum Bapak BK melebar dan wajahnya makin sumringah.
Hati ini serasa lega dan nyaman. Saya berdoa demi kebahagiaan Bapak BK.
…
Mas Redjo

