| Red-Joss.com | Saya kaget dan tidak menyangka, ketika anakku yang baru berumur 3 tahun, SB bertanya seperti itu pada Opa dan Omanya.
Pertanyaan itu menggelegar bagai petir di siang bolong. Tidak hanya menyayat hati, tapi juga meluluh-lantakkan jiwa ini.
Padahal jujur, sebagai orangtua, kami tidak pernah mengajari hal itu.
“Oo, Opa dan Oma sayang kamu,” kata Opa sambil mengelus kepala SB.
“Tapi, mengapa Opa belum pernah ke rumah aku…” tanyanya lugu.
Jleb!
Saya mengeraskan hati agar air mata ini tidak runtuh. Saya segera memeluk SB.
“Le, Opa dan Oma sibuk bekerja,” kataku sambil tersenyum. “Opa Oma sangat sayang kamu. Kalau senggang pasti ke rumah…”
Saya lalu berusaha mengalihkan ke hal lain agar perhatian SB terpecah. Ibunya yang cepat tanggap segera mengajaknya ke luar untuk melihat bunga dan kupu-kupu di kebun.
Saya meminta maaf pada kedua mertua atas kata-kata SB. Bisa jadi, SB bertanya seperti itu, karena ia main ke rumah sebelah yang sering didatangi Opa Omanya
Mertua saya diam. Mereka beradu pandang dengan tatapan kosong, seperti ada penyesalan mengaduk-aduk hatinya.
Jika kedua mertua saya bersikap kaku dan serasa jauh dengan kami itu dapat dimaklumi. Istri saya anak tunggal. Mereka belum siap untuk melepas, dan merasa kehilangan. Apalagi saya lalu memboyongnya pindah ke luar kota. Meski begitu, setidaknya 3 bulan sekali saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi mertua.
Saya bersyukur, teramat bersyukur. Karena sejak pertanyaan, tepatnya komplainan SB itu sikap mertua jadi berubah makin ‘welcome’. Bahkan sesekali, dengan sopir tetangga, mertua minta ditemani menengok kami. Karena Ayah mertua tidak pe-de bepergian jauh dengan menyopir sendiri.
Kini, saya tidak mau mengulang pengalaman konyol yang kurang harmonis dengan mertua itu terulang kembali pada anak-anak saya yang menginjak dewasa.
Sebagai orangtua, saya berusaha bersikap bijaksana. Mengingatkan, tapi tidak memaksakan kehendak atas pilihan dan jodoh anak-anak. Mereka adalah anak kehidupan yang mempunyai kebebasan untuk memilih.
Selalu sekadar mengingatkan dengan hati dan mendoakan anak-anak. Karena saya percaya pada rencana Allah, selalu memberikan yang terbaik dan terindah untuk mereka.
Berserah ikhlas pada Allah membuat hati ini jadi damai dan bahagia.
Mas Redjo

