“Perbuatan baik dan amal kasih itu untuk dilupakan. Tapi kesalahan itu untuk diperbaiki dan dimaknai.” -Mas Redjo
Barangkali kita masih ingat dengan slogan iklan obat sakit kepala: “Sudah lupa, tuh…!” Apakah reaksi kita seperti bunyi iklan itu, yaitu kita mudah lupa, melupakan kesalahan, aib, atau kejadian dalam keseharian …?!
Melupakan atau mengingat-ingat suatu hal itu wajar. Karena saling berlintasan, kadang betabrakan di kosmis otak kita. Baik yang pahit manis atau suka duka hidup ini.
Benarkah untuk melupakan peristiwa sedih, kecewa, atau patah hati itu merupakan hal yang sulit, ketimbang hal yang baik?!
Ada anggapan, siapa pun dengan mudah dapat menghapus tulisan yang salah. Tapi memori? Memang memori, ingatan itu tidak bisa ditip-ex seperti halnya tulisan. Tidak berarti hal itu sulit untuk dihapus.
Syarat untuk menghapus peristiwa kedukaan, kecewa, dan hal buruk serta negatif lainnya itu sederhana, yaitu kita diajak berdamai dengan diri sendiri. Tidak dengan berpura-pura dan lari dari kenyataan, tapi kita dituntut berjiwa besar untuk menerima dan memahaminya.
Sejatinya, untuk melupakan hal-hal buruk, negatif, dan menyakitkan hati itu bukan pekerjaan yang sulit, asalkan kita mau menelusuri sebab musababnya dan mengatasinya.
Kita mempunyai niat kuat, bertekun dalam doa, dan memangkas hal yang berkaitan dengan kenangan itu. Misalnya, kita mengembalikan barang-barang kenangan dari doi, membuang, atau membakarnya.
Jika kita berbuat salah dan khilaf, kita dituntut berjiwa besar untuk berani meminta maaf pada orang itu. Kita juga harus berani memberi maaf orang yang bersalah itu, dan mendoakannya ikhlas hati.
Alangkah bijak, jika kita menyadari dan memahami, bahwa kenangan pahit itu adalah bagian ketetapan Allah agar kita berproses menuju kedewasaan iman.
“Kita tidak boleh membiarkan akar kepahitan itu berdiam di dalam hati kita” (Ibrani 12: 15).
Masa lalu itu tidak untuk dilupakan, tapi semua itu untuk disyukuri sebagai anugerah Allah agar hidup kita berhikmat!
Mas Redjo

