Ada sebagian orang bilang, budaya antri itu kuno dan sudah tidak zamannya. Katanya, mengantri itu membuang-buang waktu dan energi. Lebih keren itu ‘online’. Tidak ribet, cepat, dan praktis.
Apa pun barang yang dibutuhkan, di jagat maya itu mudah ditemukan dan diperoleh. Barang yang kita terima itu juga bisa dikomplain dan ditukarkan, jika tidak sesuai pesanan, barang itu cacat atau rusak. Apalagi?
Untuk makan di resto yang mewah nan keren dan selalu dipadati pengunjung itu, kita juga dapat memesan tempat ‘online’ terlebih dulu. Tidak perlu antri dan ribet. Lalu?
Ternyata online itu tidak berlaku, ketika kita memesan doa agar segera dijawab atau dikabulkan Allah. Kendati pesannya secara online tapi jawaban doa itu antri. Tidak bisa diganggu gugat, diprotes, bahkan didemo sekalipun, kecuali Allah berkenan untuk mengabulkan dan memberi kita sesuai waktu-Nya.
Disadari atau tidak, kita yang tengah berziarah di dunia ini sebenarnya juga sedang menunggu antrian untuk kembali pada Allah yang Maha Pencipta. Tapi kita tidak tahu pasti, kapan waktunya giliran itu tiba.
Lebih daripada itu, kita juga tidak bisa seenak jidat bertukar nomor antrian untuk pindah ke depan atau paling belakang. Kita tidak bisa unjuk kekuasaan atau kekuatan uang. Bahkan menyogok Allah dengan doa dan berpura-pura baik. Semua ada waktunya dan sesuai nomor antrian. Jadi, siapa bilang budaya antri itu kuno?
Sejatinya budaya antri itu mengajar kita untuk belajar jadi pribadi yang sabar, tertib, beretika, dan rendah hati untuk memahami orang lain.
Dengan budaya antri, hidup kita harus terus menerus diperbarui untuk jadi makin baik dan berkenan bagi Tuhan. Dengan membangun jembatan kebaikan pada sesama itu memudahkan dan melancarkan jalan kita untuk kembali kepada-Nya.
Tuhan memberkati.
Mas Redjo

