Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setiap keuntungan pasti ada risikonya.”
“Kalau orang tidak melihat depan dan belakang, akan menderita seumur hidup”
(Peribahasa China)
Pandangan Positif dan Negatif
Sudah jadi sebuah pengetahuan umum dan sebagai sebuah pegangan hidup, bahwa pandangan yang bersifat positif, sudah dianggap sebagai sebuah pandangan yang terbaik. Sebaliknya, semua yang berpandangan negatif, akan dipandang melulu negatif. Tapi, mohon bersabar dan tunggu dulu!
Konsep Yin Yang
Sesuai konsep dalam filosofi China, ‘Yin Yang’, tentang hukum “keseimbangan, bahwa manusia hendaknya memiliki pandangan positif dan juga negatif dalam memandang sesuatu. Jadi, keduanya bukannya justru saling memotong, tapi dibutuhkan suatu sikap keseimbangan. Bahkan di antara keduanya perlu saling mengisi dan melengkapi.
“Jangan hanya mengejar keuntungan yang berada di depan mata, tanpa menyadari bahaya yang ada di belakangnya!”
Bertolak dari sebuah kisah di musim Gugur dan musim Semi (770-476 SM), tatkala terjadi pertemuan antara Raja Wu dengan para Jenderalnya. Dengan tekad yang sudah mantab dan pasti, sang Raja berniat untuk menyerang negara Chu.
Ternyata secara diam-diam para abdinya meragukan tekad bulat itu. Mereka membayangkan sebuah risiko yang berada di balik tekad yang sudah sangat membaja itu, yakni tantangan maut dari negara Yue.
Demi mengubah orientasi pikiran sang Raja, maka salah seorang kaki tangan Raja itu bersiasat.
Setiap pagi hari, ia berjalan keliling taman itu sambil di tangannya tergenggam sebuah katapel dan matanya memandang ke atas pohon. Pada pagi hari yang ketiga, ia sempat bertemu dengan Raja di taman itu. Dengan rasa penasaran Raja bertanya, “Mengapa saudara, sering berada di sini?”
“Maafkan saya, Baginda Raja. Saya, sedang mengamati seekor tonggeret yang sedang bersantai di atas pohon, dan ia tidak memperhatikan bahaya di belakangnya.”
“Tapi, lalu mengapa, dan apa hubungannya?”
“Nah, Raja, karena di belakangnya ada seekor belalang yang mengintipnya, sebagai kesempatan, sedang mengulurkan lengannya ingin menangkap dan memangsanya”
Selanjutnya tutur kaki tangannya itu, “Sayangnya, belalang itu tidak melihat ke belakangnya, yang sedang berdiri seekor burung kepodang yang justru sedang mengulurkan lehernya untuk menerkamnya.”
“Lalu?” Rupanya Raja kian penasaran dengan kisah itu.
“Burung kepodang itu tidak tahu, bahwa di bawah sini, ada saya yang menggunakan katapel dan siap membidiknya.”
(The Best of Chinese Wisdoms).
Amanat Kearifan di Balik Kisah ini
Kita manusia, entah siapa pun dia, sering kali hanya ingin meraih keuntungan dan suatu kemenangan besar yang dipandangnya sudah berada di dalam genggaman tangannya, tapi lupa mengalkulasi aspek risiko di balik tekad membara itu.
Kecenderungan manusia sering hanya mengandalkan kekuatan dirinya dengan tanpa mengalkulasi kekuatan musuh. Dampaknya, sering kali kita akan menanggung risiko yang jauh lebih besar daripada aspek kemanfaatannya.
Ternyata setelah mendengar tuturan kaki tangannya itu, akhirnya sang Raja terjaga dan tersadar akan risiko dari sikap keras kepalanya itu. Apa yang kelak yang terjadi di dalam sejarah bangsa itu? Sang Raja akhirnya menunda rencananya untuk menyerang negara Chu.
Realitas Hidup yang Menantang Kita
Dalam hidup ini, kita selalu mengandalkan konsep yang menawarkan cara berpikir positif. Hal itu tidak salah, bukankah sikap positif mampu memacu kita untuk bergerak maju? Tapi, jangan sampai kita pun terlena dan lupa akan risiko dari tekad membara itu.
Hal terbaik yang perlu dibangun di dalam kesadaran manusiawi kita ialah, agar kita perlu “seimbangkan antara hal yang positif dengan hal yang negatif.”
Sering kali dalam hidup ini, sikap percaya diri berlebihan itu ibarat orang yang terlampau “mengharapkan tumpahan air dari langit, dan malah membuang air yang ada di dalam tangannya sendiri.”
Refleksi
“Kita ini adalah manusia yang sering lemah dan bukanlah dewa”
“Homines sumus, non Dei”
(Pertonius)
“Erare Humanum est”
Kekeliruan adalah khas manusia
(Seneca)
Kediri, 29 Januari 2026

