Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku pun tak tahu,
yang mana,
yang akan kau berikan padaku.”
(Sebuah Lagu)
…
| Red-Joss.com | Sungguh benar, kehidupan ini, sering diibaratkan, bagaikan meneguk segelas racun dan atau segalon madu.
Ternyata, selalu saja ada dua jenis isi dan rasa dari sebuah gelas kehidupan ini. Antara tegukan yang berisi racun maut dan tegukan yang berisi madu manis.
Ada pun judul tulisan reflektif ini, “Antara Segelas Racun dan Segalon Madu.” Saudara, antara tegukan yang berisi racun pun pula tegukan yang berisi madu.
Seorang pelantun lagu cinta, seolah di dalam keraguan cinta, berdendang, “aku pun tak tahu, apa yang akan kau berikan padaku.” Sejumput racun atau kah setetes madu, yang akan kau sodorkan kepadaku? Sungguh, aku tak tahu.
Memang, sang Dewi cinta sering bermain lewat dua buah kakinya. Antara kaki kiri dan kaki kanannya. Sang kaki kiri dapat saja berseru, “Darling, I love you,” dan pada saat yang hampir bersamaan, juga terucap, “Darling, I hate you.”
Sungguh, sangat jarang kita berjumpa dengan sepasang kekasih yang setia laksana Romeo dan Juliet, dan bahkan rela mati bersama dengan meneguk segelas racun, justru atas nama cinta tulus mereka?
Sungguh, entah cinta kepada Tuhan, sesama, dan kepada tanah air, justru dibutuhkan sebuah “nilai ketulusan hati.” Seperti antara cinta Eros, yang masih dihiasi dengan main mata. Atau pun cinta Philia, yang bernuansa persahabatan dan kemanusiaan? Atau justru Anda sudah berada di taraf cinta sempurna, cinta agape alias cinta Tuhan?
Andaikan hidup ini merupakan sebuah persembahan diri total, maka nilai apa yang akan Anda persembahkan?
Apakah Anda mau mencicipi seteguk racun maut ataukah segalon madu manis?
…
Kediri, 23ย Novemberย 2023

