Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sudah sejak semula diyakini, bahwa selalu terdapat perbedaan di antara ciptaan di atas
bumi maya ini.”
…
| Red-Joss.com | Dunia mengenal istilah, ‘dualisme’, yakin sebuah doktrin / paham / konsep yang mempercayai, bahwa realitas di atas bumi ini, selalu terdiri dari dua prinsip dasar yang berlawanan.
Secara simpel dapat dibuktikan, ketika kita mengenal ada prinsip-prinsip hidup yang serba kontradiktif. Seperti antara: siang dan malam. Terang dan gelap. Juga antara pria dan wanita, besar dan kecil, baik dan buruk, serta juga yang lurus dan bengkok.
“Antara Pribadi yang Lurus dan yang Bengkok.”
Sesungguhnya, hal ini mau menjelaskan, bahwa sungguh riil dalam kehidupan kita, bahwa memang, ada pribadi yang dikategorikan sebagai yang lurus dan juga ada pribadi yang bengkok.
Kriteria ini berdasarkan fakta dan pengalaman
Siapa itu sosok pribadi yang dianggap lurus dan siapa pula sosok pribadi yang dianggap bengkok?
Pengalaman adalah guru yang terbaik, demikian pepatah petitih bangsa kita.
Pribadi yang lurus adalah sosok pribadi yang enggan untuk bersikap neko-neko. Dia bahkan cenderung bersikap serba lugas dan transparan tanpa ada embel-embel atau pun renda-renda.
Jika dia berkata, bahwa dia tidak menyukai sesuatu itu, hal ini pun bermakna, bahwa dia sungguh tidak menyukai sesuatu itu. Titik, tanpa embel-embel. Dia adalah pribadi yang sungguh berintegritas!
Sebaliknya, pribadi yang bengkok adalah sosok pribadi yang dianggap bermuka dua ala bunglon. Antara ucapan dan tindakannya, sungguh tidak dapat dipegang.
Jika dia berkata, bahwa dia menyukai sesuatu itu, maka hal itu tidak selalu bermakna dia sungguh menyukai sesuatu itu. Bahkan dapat saja bermakna, dia tidak menyukai sesuatu itu. Karena dia adalah sosok pribadi yang inkonsisten!
Dalam kehidupan riil, kita pun akan menjumpai kedua sosok pribadi ini. Di mana kedua figur pribadi ini memang akan selalu menghiasi wajah kehidupan kita.
Sebagai sesama manusia, kita tetap akan merespon dan menghormati sosok pribadi yang dianggap bengkok ini.
Semoga di dalam kehidupan ini, Anda dan saya mampu membantu mendampingi sosok pribadi yang bengkok ini, agar dia sadar dan berupaya untuk menyadari akan kelemahan dirinya yang inkonsisten ini.
Ibarat tiada gading yang tak retak, demikian kisah kehidupan anak manusia di atas bumi maya ini.
Bahwa senantiasa ada kelemahan dan kekurangan dalam diri seseorang. Dalam konteks ini, orang Latin menyebutnya, “errare humanum est,” bahwa kelemahan adalah sifat khas manusia.
Kelemahan dapat menjadi sebuah kekuatan dasyat, jika manusia itu mau menyadarinya di dalam kerendahan hatinya!
…
Kediri, 1 Mei 2024

