Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Entah kapan dan bagaimana pun, sesuatu yang memang asli, akan tampak asli, dan yang palsu pun tampak palsu.”
(Amanat Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Hidup dan kehidupan ini sejak semula, memang selalu terjadi pergeseran. Selalu ada pergulatan nurani serta perbedaan pandangan antara suatu yang asli dan palsu.
Kisah ini adalah realitas hidup, bahwa sering kali, kita mudah terjebak dan terperangkap, sehingga bersikap salah kaprah dalam memandang sesuatu.
Alkisah Kecantikan dan Keburukan berjumpa di tepi pantai. Mereka berkata kepada satu sama lain, “Mari kita mandi di laut.”
Mereka menanggalkan baju dan berenang. Sesaat kemudian, Keburukan kembali ke pantai dan mengenakan pakaian Kecantikan, lalu pergi.
Tatkala Kecantikan kembali ke darat, ia tidak menemukan pakaiannya. Risih karena malu, maka dikenakannya pakaian Keburukan.
Hingga hari ini, manusia pun selalu keliru untuk mengenali keduanya.
Namun ada juga manusia, yang tetap mengenali, yang mana itu Kecantikan, sekalipun dia berpakaian Keburukan. Begitu pula, yang mana itu Keburukan, sekalipun dia berpakaian Kecantikan.
(Sang Pengembara, Kahlil Gibran)
Sesungguhnya, kehidupan ini, merupakan sebuah pilihan bebas manusia untuk bebas memilih dan menentukan jalan hidupnya.
Tapi yang sering terjadi, kita selalu berada di antara dua alternatif pilihan itu. Antara kecemerlangan sebutir mutiara ataukah sekeruh genangan lumpur.
Juga merupakan sebuah fakta, bahwa sering pula, kita terjebak di antara kebeningan sebutir mutiara dan kekeruan kubangan lumpur.
Hidup kita memang tidak sekadar ibarat mengenakan pakaian. Artinya bahwa orang boleh memilih dan mengenakan pakaian sesuka hatinya.
Padahal dalam kehidupan ini, sejatinya kita telah diberi pakaian/mantel hidup sesuai jatidiri dan kepribadian masing-masing.
Model kehidupan ala bunglon adalah sebentuk pelarian, yang justru kian tidak menyamankan pribadi itu sendiri. Artinya, kita jangan mencoba untuk bertukar pakaian kepribadian sesuai selera dan keinginan kita.
Pribadi-pribadi nan agung, justru dengan sangat mudah akan tetap mengenali, siapakah sejatinya kita itu.
Hendaklah kita tetap hidup di dalam keaslian diri dan berusaha untuk menghindari kepalsuan!
“Emas tetaplah emas, dan loyang pun tetaplah loyang!”
…
Kediri,ย 8ย Januariย 2024

