Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Getaran cinta turun lewat mata menuju ke kedalaman hati.”
(Amanat Cinta Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Ada sebuah adagium bernuansa cinta yang sudah sangat dikenal di dalam masyarakat kita.
“Proses cinta itu turun dari mata menuju ke relung hati sanubari manusia.”
“Antara Mata dan Hati.”
Sesungguhnya, apa, mengapa, dan bagaimana terjadinya proses mencintai itu?
Latar belakang saya menurunkan tulisan ini bertolak dari sebuah refleksi interisan,”Pembuat Perahu.” Inilah sinopsisnya!
Sang Atheis sangat yakin, bahwa memang tidak ada Tuhan. Maka, sang Atheis itu mengajak Imam Abu Hanifah berdebat.
Dengan disaksikan massa, Atheis itu meminta sang Imam untuk menunjukkan bukti, bahwa Tuhan itu memang sungguh ada.
Di luar dugaan, Imam itu berkisah, “Tadi, saat ke kota, saya menaiki sebuah perahu yang muncul, terbentuk, dan beroperasi dengan sendirinya.”
Mendengar tuturan itu, Atheis itu berkata, “Tidak masuk akal.”
Sang Imam berkata, “Jika kau tidak percaya, bahwa ada perahu yang bisa muncul dan berbentuk tanpa pembuatnya. Bagaimana mungkin kau bisa yakin, bahwa ada alam semesta yang terbentuk tanpa penciptanya?”
Dengan diam seribu bahasa, maka berlalulah sang Atheis itu.
(Berguru pada Saru, Hamdan Hamedan)
Camkan amanat agung dari kisah ini!
Bahwa, “Untuk bisa melihat ciptaan Tuhan, orang harus membutuhkan sepasang mata. Untuk bisa melihat Sang Penciptanya, orang harus membutuhkan sekeping hati!”
Sungguh dasyat, bukan?!
Antara mata dan hati.
Ya, mata itu adalah simbol dunia mikro dari sang mentari. Hati itu adalah pusat dari totalitas kesadaran sang manusia.
Bahwa sejatinya, “mata itu berguna untuk melihat hal-hal lahiriah, sedangkan hati, untuk melihat hal-hal rohaniah.
“Berbahagialah orang-orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Sang Guru Sejati).
…
Kediri,ย 4ย Aprilย 2024

