“Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang.” -Rio, Scj
Kalau tidak tahu apa-apa itu jangan sok tau. Apalagi ngegosipin orang. Prinsipnya sederhana, jika kita belum bisa membedakan katanya dan nyatanya lebih baik diam. Karena percuma, berisiknya mereka itu tidak mempengaruhi apa-apa, malah bikin dosa.
Mungkin hal sederhana ini bisa mengubah kita. Garam tidak pernah nakal, tapi selalu kena cubit. Cabai tidak pernah ribut, tapi selalu kena tumbuk. Gula hanya diam saja, tapi dia selalu kena aduk. Jika kopi pahit yang disalahkan gula, tapi saat kopi manis gula juga yang disalahkan. Hidup juga begitu, kita sudah berbuat baik, tapi tetap ada orang tidak suka. Kita diam, malah jadi bahan gosip. Kita rajin pelayanan malah jadi omongan. Kadang serba salah hidup ini. Baik salah, tidak baik apalagi. Saran terbaik adalah tetaplah menebar kebaikan itulah yang membuka pintu berkat Tuhan. Faktanya, sebaik apa pun kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang.
Diam elegan itulah yang bisa membungkam. Terus melangkah, meski hidup tidak mudah. Tebarkan kebaikan, meski tak lepas dari gosip dan omongan. Berbagilah dengan ikhlas, meski banyak mata dan mulut berkomentar itu tidak bisa dicegah. Kalau sudah tidak senang, apa pun yang kita mau tunjukan itu tetap saja kurang dan salah.
Kita santai saja. Hidup itu dibuat seimbang, mendengarkan kata orang, tapi seperlunya. Dengarkan kata hati, tapi pakai rasa dan logika. Maafkan dan doakan, itulah yang berkenan di hati Tuhan. Prinsipnya sederhana, hidup itu tidak perlu menyenangkan semua orang, tapi cukup yang layak dan pantas kita senangkan. Yang utama dan pertama itu adalah selalu membuat Tuhan senang.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

