RedJoss.com – “Khotbahnya membosankan!” atau “Ceramahnya bertele-tele dan bikin ngantuk!” Dan, banyak lagi komentar senada dari umat yang kita dengar. Barangkali kita termasuk yang mengomentari hal itu.
Memberi komentar mengenai isi khotbah atau kepada penceramah di rumah ibadah tidak dilarang. Tetapi, lebih bijak jika itu tidak dilakukan, apalagi jika kita memberi komentar miring. Selain tidak pantas, kita juga tidak menghargai penceramahnya. Bahkan kita juga belum tentu mampu jika diminta berceramah di depan umat.
Faktor lainnya adalah kita pergi beribadah untuk sekadar menjalani ritual rutin semata, sehingga tanpa menyiapkan diri dengan baik. Misalnya, kita ke rumah ibadah dengan berpakaian pantas karena hendak sowan Gusti, menyiapkan materi yang hendak dikhotbahkan, dan seterusnya.
Datang terlambat di rumah ibadah juga merupakan faktor yang membuat kita sering kehilangan konsentrasi. Bisa jadi kita lupa dan asyik ngobrol, atau main HP, sehingga mengganggu umat yang lain. Akibatnya, kita tidak mendengarkan khotbah dengan baik, jelas, dan memahami maknanya.
Berbeda hasilnya jika kita pergi ke rumah ibadah menyiapkan hati, duduk di depan dekat mimbar, dan fokus sembahyang.
Kenyataannya, tidak banyak dari kita yang sepulang sembahyang mengingat kembali dan merenungkan materi khotbah untuk menerapkan hidup jujur dan benar dalam keseharian.
Kita juga tidak harus sembahyang berpindah rumah ibadah dari yang satu ke yang lain, karena kita ingin mendengarkam penceramah idola atau yang hebat. Bukan penceramah yang loyo dan bertele-tele khotbahnya atau menghasut umat, melainkan penceramah yang mampu membakar motivasi dan nyes di hati.
Padahal, sejatinya sembahyang itu karena anugerah Allah. Kita diundang dan menanggapi panggilan-Nya agar kita menyembah, memuji, dan memuliakan-Nya.
Sembahyang datang dari kesadaran hati, karena kita disayangi Allah. Kita diajak meneladani hidup para Nabi utusan-Nya agar kita menjadi pribadi yang rendah hati.
Hidup berkenan bagi Allah, ketika kita mampu meneladani hidup para Nabi agar kita hidup saling mengasihi.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

