Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika ada orang yang sungguh buta dan lupa warna, maka bersyukurlah.
Namun, jika dia berpura-pura, maka terkutuklah dia.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Tulisan reflektif ini, bertolak dari kegusaran saya atas argumen sesat seorang tokoh besar di negeri morat-marit ini, yang justru mengingkari dan menolak, bahwa tidak ada bungkusan bansos yang berwarna kuning. Maka, segera berhamburan hujatan dari para netizen.
Demikian sepotong nyanyian rindu (secara turun-temurun), dari tabiat busuk anak negeri nan elok jelita ini.
Bau busuk dan kebohongan yang seolah-olah harus selalu bersikap demikian, sudah merupakan sebuah warisan demi menutupi aib.
Ala bisa karena biasa, demikian pepatah petitih dari anak negeri nan molek ini.
Mengapa ada orang yang rela atau berani untuk berbohong? Tentu, karena ada udang di balik batu. Ada maunya, sikap neko-neko yang mau atau tidak mau, harus didramatisasi demi menutupi wajah-wajah bertopeng.
Antara Buta Warna dan Lupa Warna!
Tidak jarang di dalam masyarakat kita, dalam lembaga apa pun orang-orang sering berkilah atau bahkan rela untuk berbohong demi menyelamatkan wajah-wajah culas.
Bersikap dan bertindak bohong, sebetulnya hanya secuil liukan gemulai sebuah tarian kepalsuan semata.
Tarian semu itu, mau tidak mau, atau suka atau tak suka, toh perlu dipentaskan atas nama sebuah kepalsuan demi menyelubungi aib.
Jika kita masih sempat ingat adagium, “Katakan ya, jika itu ya, dan katakan tidak, jika itu memang tidak. Selebihnya itu justru berasal dari si jahat!”
Itulah sebuah didaktika hidup yang patut kita cerminkan di dalam hidup ini.
Mengapa berkata dan bertindak jujur itu sungguh sebagai sebuah sikap penting?
Bukankah sang kejujuran itu adalah kehendak Sang Ilahi? Itulah sifat dan hakikat sejati dari Sang Pencipta.
Dalam hal ini, secara religius dan sosial dapat bermakna, bahwa jika manusia itu sanggup melakukan kehendak Sang Ilahi, maka dia pun akan selamat di dunia serta akhirat.
Dalam konteks ini, hendaklah kita wajib untuk saling mengingatkan satu sama lain akan pentingnya seruan dan perintah keselamatan dari Sang Ilahi.
Orang-orang yang berhati baik biasanya tidak akan segan dan ragu-ragu untuk mau berbagi serta saling mengingatkan.
Itulah tabiat mulia sang manusia sebagai makhluk sosial.
Hendaklah kita pun dengan jujur dan berani untuk menegur sesama dalam suasana kasih persaudaraan!
“Aku hadir demi engkau!” Demikian sepenggal seruan kenabian.
…
Kediri, 8 April 2024

